Rabu, 03 Juli 2013

15. Pangeran Berkuda Putih (Pelangi Setelah Hujan)

15. Pangeran Berkuda Putih (Pelangi Setelah Hujan)
            Perlahan jemari tangan Ilmi mulai bergerak hingga akhirnya dia membuka kelopak matanya. Ilmi tampak heran dan memperhatikan sekelilingnya yang dirasakannya begitu asing. Ilmi melihat kesisi sebelah kiri tempat tidur ia di rawat ada seorang gadis yang tertidur dengan tangan yang menggenggam tangan kirinya. Ilmi  mulai teringat akan peristiwa terakhir yang dialaminya. Ia mulai sadar bahwa dia tidak sadarkan diri sejak siang hari dan kini terjaga pada saat pukul setengah sepuluh malam.
            Ia melihat Putri tertidur pulas di sisi rajangnya. Ilmi tidak bermaksud membangunkan Putri namun Putri langsung terjaga karena pergerakan yang dilakukan olehnya.
            “Ilmiiiiiiiiiiiiii….syukurlah kamu sudah sadar”
            “Dokter bilang kamu akan siuman setelah tiga jam selesai operasi, tapi sudah empat jam tidak sadar juga, aku khawatir tadi”.
            Putri tampak begitu bersemangat mencerita perihal kejadian yang telah menimpa Ilmi. Disamping itu dia sangat senang karena Ilmi sudah kembali terjaga dari tidurnya.
            “Kamu keliatannya capek Put, kalau mau pulang gak apa-apa kok, aku gak apa-apa disini sendiri, nanti ka nada suster yang memeriksa beberapa jam sekali” Tutur Imi pada sahabatnya yang begitu terlihat lelah olehnya sembari menggenggam tangannya.
            “Kamu tu ya, selalu bisa bilang sendiri, gara-gara terlalu pede kemana-mana sendiri makanya jadi kayak gini”. Bantah Putri dengan juteknya. Ilmi pun tersenyum melihat respon Putri.
            “Makasi ya Put, entah apa jadinya nasibku kalo kamu gak ada disini, tapi kamu tidak bilang ke Ibu kan Put?” Ilmi takut jikalau Ibunya tahu hal yang menimpa dirinya. Pasti Ibunya akan sangat khawatir dan akan menambah beban fikirannya.
            “Udah kamu tenang aja, semuanya aman Mi, aku panggilkan perawatnya dulu ya, mana tau ada yang harus diperiksa”. Putri pun beranjak keluar dari kamar tersebut menuju perawat yang sedang berjaga guna mengecek keadaan Ilmi yang sudah siuman.
            Butiran air mata mengalir di pipi Ilmi. Ia merasa begitu ceroboh dan bodoh selalu saja menyusahkan orang-orang disekitarnya. Baru saja ia mendapat perkerjaan dan gaji yang lumayan. Sudah datang musibah yang harus mengehentikan semua aktivitasnya entah untuk berapa lama.
            Ilmi pun meraba kepalanya yang terbalut perban. Kepalanya terasa pusing. Samar-sama dia ingat bahwa kepalanya terbentur karena tertabrak sepeda motor hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri lagi.
            Keesokannya setelah mengurus sarapan pagi dan memastikan kondisi Ilmi yang cukup stabil, Putri mohon pamit untuk meninggalkan Ilmi karena ada kuliah yang harus diikutinya.
            “Nanti kalo sudah pulang kuliah aku langsung kesini, kalo ada apa-apa jangan langsung kabari aku ya Mi”.
            “Ok bos..thanks ya Put” jawab Ilmi sambil melempar senyuman pada sahabatnya tersebut.
            Putri pun bergegas pergi dari ruang tersebut. Saat hendak keluar dari gerbang ia berpapasan dengan Fadlan yang sepertinya berniat masuk ke dalam. Fadlan tampak menghampirinya dengan wajah yang terlihat ramah. Putri agak sedikit bingung dan malu atas sikap kasar yang dilakukannya semalam.
            “Mau kemana Dik, saya baru saja hendak menjenguk teman Dik Putri”. Terlihat di tangan kanannya menggenggam bungkusan yang berisi buah-buahan.
            “Saya mau pulang Pak, silahkan saja Pak, tadi dia baru selesai sarapan, dan kebetulan sedang sendiri karena saya harus buru-buru pergi”. Putri tampak kikuk, disamping rasa tidak enak dihatinya, dia juga merasa sangat tidak sopan dengan seseorang yang berstatus dosen ditempatnya kuliah.
            Fadlan hanya terheran melihat ekspresi Putri yang tampak kebingungan dan terlihat lebih sopan. Tapi dia tidak berbincang banyak dengan gadis berwajah oriental tersebut karena Putri buru-buru pergi meninggalkannya.
            Fadlan pun menuju ke ruangan tempat Ilmi dirawat. Memasuki ruangan yang berisikan beberapa pasien tersebut, Fadlan seakan sudah bisa menduga mana Ilmi karena hanya dia pasien yang seumuran dengan Putri. Fadlan langsung saja menyapa Ilmi dengan nada ramah dan senyum tergambar jelas di wajahnya.
            Ilmi tampak heran dengan lelaki yang tidak dikenalnya dan tiba-tiba datang menjenguknya. Fadlan tampak lebih berwibawa hari itu dengan stelan kemeja kerja yang biasa dikenakannya. Lelaki yang berparas tampan dengan susunan alis bak semut beriring tersebut hampir membuat Ilmi tidak mengedipkan mata melihatnya.
            “Selamat pagi, Dik Ilmi kan?” sapaan ramah dilemparkan oleh Fadlan sebagai awal pembuka percakapan.
            “Iya saya Ilmi, maaf Bapak siapa ya?” jawab Ilmi yang masih heran namun tetap bersikap ramah ciri khas dirinya yang selalu dilakukan kepada siapapun.
            “Hmmm…Saya Fadlan, panggilan akrab saya Alan”
            “Nama yang bagus sama seperti orangnya” Bisik Ilmi dalam hati.
            “Maaf dik jika saya lancang datang kesini, karena saya lah semalam yang telah menabrak dik Ilmi hingga jadi berkondisi seperti sekarang  ini”. Alan menghentikan kata-katanya dan menghela nafas. Ilmi pun sempat terkejut dengan pengakuannya. Ilmi memperhatikan terdapat beberapa luka di dahi dan lengan laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya tersebut membuatnya yakin bahwa sepertinya ia tidak sedang berbohong.
            “Tidak apa-apa Pak, semalam itu musibah yang juga terjadi karena kecerobohan saya tidak berhati-hati menyebrangi jalan”. Ilmi berusaha mencairkan Susana karena melihat ketegangan diwajah Alan.
            Alan merasakan kondisi yang bertolak belakang dengan apa yang telah dibayangkannya, berdasarkan sikap Putri padanya semalam, Ia berfikir Ilmi akan lebih histeris lagi mendegarkan pengakuannya. “Terima kasih Dik, tapi sekali lagi saya mohon maaf”. Balasnya sambil merekahkan senyum di bibirnya. Perasaan bersalah tidak begitu saja hilang dari benaknya melihat Ilmi yang menjadi korban kini terbaring tidak berdaya dengan perban yang melilit kepalanya dan selang infus yang masih menancap di lengan kanannya. Alan berjanji dalam hati akan mempertanggung jawabakan semua perbuatannya.
            “Iya pak sama-sam, Ilmi juga begitu”
            “Jangan panggil saya Pak, panggil saja saya Mas Alan, umur saya masih 26 tahun kok Mi”.
            Ilmi tersenyum mendengar penuturannya. Penampilannya yang bersahaja dan begitu rapi membuat Ilmi merasa tidak hormat jika harus memanggil namanya secara langsung. “Baiklah Mas” jawab Ilmi.
            “Saya semalam sudah bertemu dengan teman kamu Putri waktu membicarakan kasus ini, dia tampak marah sekali dengan saya”.
“Hehehe…dia memang agak jutek mas apalagi sampai ngeliat saya seperti ini, pasti dia jadi emosi”.
“Tapi tadi sepertinya dia terburu-buru pergi saat berpapasan dengan saya di gerbang”.
“Iya dia mau kuliah Mas, dari semalam dia sudah lelah menjaga saya”. Ilmi menceritakan perihal kedekatan mereka sebagai sahabat. Ilmi juga mengatakan bahwa Putri bukan saja sahabat melainkan sudah dianggap saudara olehnya.
Alan nampak asyik mendengarnya. Ia mulai mengerti betapa dekatnya hubungan mereka. Jadi wajar baginya jika Putri semalam seemosi itu melihatnya. “Kalau saya boleh tau dia kuliah dimana ya Mi?” tanya alan.
            Ilmi pun memberitahukan dimana Putri mendalami studi Pendidikan Matematikanya yang ternyata juga tempat dimana Alan mengajar. Alan sedikit terkejut dan mulai paham dengan perubahan sikap Putri padanya pagi tadi. Ia menduga bahwa Putri pasti sudah mengenalnya sebelumnya karena mereka berkecimpung di fakultas yang sama.
            “Kebetulan ya Mi, saya juga mengajar disitu sebagai dosen fisika”.
Ilmi sudah menduga bahwa lelaki yang sedang dihadapannya bukan orang biasa karena tampak dari penampilan dan cara bertutur kata yang terlihat sebagai seorang yang terpelajar. “Wah..hebat ya Mas, pasti mas pintar, masih muda sudah  jadi  dosen”. Penuturan Ilmi tersebut mengembangkan senyum diwajah Alan.
“Semuanya tergantung usaha Mi, saya juga perantau disini, Orang tua saya hanya bisa memberikan uang pas-pasan setiap bulan selama masa kuliah saya. Tapi itu sudah sangat saya syukuri. Saya selalu belajar keras demi mencoba beberapa beasiswa yang bisa membantu menopang biaya kuliah saya yang akhirnya saya dapatkan. Alhamdulillah Allah seakan selalu mendengar do’a saya dan membalas semua jerih payah saya. Seorang dosen mengangkat saya menjadi asisten. Beliau mengupayakan saya mendapatkan beasiswa untuk S2 dan meminta saya melanjutkan kuliah sambil mengajar. Saya pun mengikuti saran beliau dan melanjutkan kuliah sambil mengajar hingga akhirnya saya diangkat menjadi dosen”. Alan terus menceritakan pengalaman hidupnya yang semakin membuat Ilmi terpana. Sedikitpun tidak ada rasa benci di hatinya pada Alan akibat kecelakaan yang dialaminya. Malah ia semakin terkagum akan sosok Alan yang hangat dan penuh potensi itu.
“Maaf Mi, saya jadi terlalu banyak bicara, tapi saya selalu menceritakan pengalaman saya ini guna membangkitkan semangat adik-adik yang menurut saya masih mempunyai kesempatan meraih semua hal yang mereka impikan. Asalkan beruusaha dan berdo’a, Insya Allah semua bisa diraih.
“Wooww…fantastis, Ilmi jadi lupa sama nyeri di kepala Ilmi karena cerita Mas Alan. Ilmi jadi pengen cepat-cepat sembuh juga biar bisa bekerja lagi Mas”. Tutur Ilmi yang tampak lebih bersemangat setelah beberapa saat berbincan-bincang dengan teman barunya tersebut.
Setelah hampir satu jam menghabiskan waktu ngobrol dengan Ilmi, Alan pamit undur diri karena ada jadwal mengajar yang harus dipenuhinya. Ia juga melihat Ilmi butuh istirahat. Sementara itu Ilmi cukup senang dengan kehadiran Alan pagi itu. Tidak pernah dia merasakan senyaman itu berbicara dengan lawan jenisnya. Setelah Alan keluar dari ruangannya, Ilmi mulai berkenalan pula dengan  pasien-pasien yang ada disekelilingnya yang rata-rata adalah manula dengan berbagai macam penyakit.
Setelah lelah bertegur sapa Ilmi kembali tertidur diatas ranjang rawatnya hingga akhirnya kedatangan Putri membawakan makan siang kesukaannya membangunkan Ilmi dari tidurnya. Ia senang melihat Putri kembali ada disampingnya ditambah lagi membawakan makanan yang sangat dia sukai.
“Kamu kok cepat pulang kuliahnya Put?”
“Iya nih Mi, dosen untuk sore ini tidak masuk, jadinya aku bisa pulang sekarang”.
Mereka kemudian menyantap makanan yang dibawa Putri bersama-sama. Kondisi Ilmi tampak lebih membaik dari sebelumnya, hanya saja dia masih sering mengeluhkan rasa sakit dikepalanya karena terbentur pada saat kecelakaan terjadi.
“Hmm…iya Put, tadi orang yang nabrak aku semalam datang kesini, namanya Alan”.
“Iya Mi, aku sudah kenal, tadi pagi juga papasan kok sama aku”
“Dia baik ya Put, ganteng lagi, hahahaha…” Ilmi tampak malu mengekspresikan kata-kata terakhirnya.
“Iya memang, tapi semalam sempat aku jutekin, abis aku kesal kenapa dia seceroboh itu”.
“Gak heran, nona Darting (Darah Tinggi)” julukan yang sedari dulu diberikan Ilmi pada Putri karena Putri sangat mudah terbawa emosi.
“Hahahaha…malah ternyata dia dosen dikampusku, segan banget Mi rasanya semalam marah-marahi Bapak itu”.
“Iya tadi Mas Alan juga bilang gitu pas aku kasi tau kamu kuliah dimana. Hebat banget lo Put, pengalaman hidupnnya luar biasa Put”. Ilmi tampak bersemangat saat menceritakan segala hal tentang Alan.
“Mas?” tanya Putri heran dengan nada mengejek dan lirikan nakal.
“Hmmm…iya..tadi dia minta dipanggil Mas” jawab Ilmi polos.
“Wah..wah…sepertinya ada something spesial nih yang udah terjadi, semangat amat ngomongin Alan, upss maksudnya Mas Alan”.
“iiiiicccchhhh apaan sich, biasa aja kok, aku kan Cuma kagum sama dia” Ilmi kemudian menceritakan semua pengalaman Alan yang tadi diceritakan oleh Alan padanya. Putri sebenarnya turut kagum karena untuk meraih beasiswa ataupun diangkat sebagai asdos yang kemudian menjadi dosen bukan hal yang mudah. Kesempatan yang sangat langka dan hanya bisa di raih oleh Mahasiswa yang benar-benar jenius.
“Iya..iya dech..tapi dia memang baik kok, semalam dia minta damai atas kasus ini dan berjanji membiayai semua tanggungan pengobatanmu, pas sorenya aku ke ruang administrasi, mereka bilang semuanya telah dilunasi oleh Fadlan”. Papar Putri.
“Masya Allah..kasian ya Put”
“Ya itu kan memang udah resiko dia Mi…”
Putri tak henti-henti membully Ilmi yang tampak sangat care pada Alan.
“Cie…cie…bukannya menumpas bajak laut, malah kesengsem sama pesona pangeran berkuda putih”.
“Hahahahaha…..” Mereka tertawa bersama-sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar