Senin, 15 Juli 2013

16. Maaf (Pelangi Setelah Hujan)

16. Maaf
            Bus melaju cepat hingga tak terasa beberapa saat lagi Ilmi akan tiba kembali dikampungnya yang sudah hampir dua tahun ditinggal olehnya. Banyak hal memenuhi lamunannya sepanjang perjalanan saat matanya memperhatikan pepohonan yang dilalui sepanjang jalan. Rindu ingin segera berkumpul lagi ditengah-tengah keluarganya serta berharap dapat melihat Hafis adiknya segera sembuh menggelayuti fikirannya. Ditambah lagi pertimbangan akan keputusan yang harus segera diambilnya atas keinginan Alan untuk mempersunting dirinya benar-benar ingin membuat seisi kepalanya keluar berhamburan. Ilmi bahkan tidak membertahu Alan mengenai kepulangannya. Disamping yang memang sangat mendadak, momen pertemuannya tadi malam dianggap tidak tepat karena ia takut Alan berfikir bahwa ia menghindar darinya.
            Sekitar jam setengah sembilan malam Ilmi tiba dikampungnya. Ilmi pun memanggil becak guna mengantarkannya kerumah. Sesampainya di depan rumah, tampak Ibunya yang sudah menanti kedatangannya didepan pintu, Ilmi pun mempercepat langkahnya untuk segera dapat memeluk Ibunya. Saat hambruk di pelukan sang Ibu, Ilmi tak kuasa menahan air mata yang mengalir di pipinya. Perasaan senang dan rindu yang tak tak terbendung mewarnai pertemuan anak dan Ibu tersebut.
            “Ibu senang kamu pulang dengan selamat Mi”
            “Iya Bu, Ilmi juga senang bisa pulang dan bertemu Ibu lagi”
            “Kita ke klinik saja ya, Aira disana menemani Hafis”
            Ilmi tak lagi memperdulikan kondisinya yang lelah karena seharian diperjalanan, bahkan pada saat itu perutnya belim terisi oleh makanan. Kedua Ibu dan anak tersebut langsung saja pergi ke klinik. Sesampainya di klinik Ilmi tampak terburu-buru menuju ruang dimana Hafis dirawat karena tidak sabar ingin melihat keadaan adik bungsunya itu. Memasuki ruang tersebut, Ilmi melihat Hafis yang tertidur dengan infus yang terpasang ke lengannya. Tubuhnya tampak kurus dan pucat. Aira pun menhampirinya dan memeluk kakaknya tersebut. Keluarga yang tak lagi memiliki sosok seorang ayah itu tenggelam dalam keharuan suasana keluarga.
            “Ra senang kakak akhirnya pulang. Sebelum sakit, Hafis sering menanyakan kapan kakak pulang”. Perkataan Aira benar-benar menyentuh hati Ilmi, betapa adik bungsunya merindukan dirinya.
            “Iya Ra, kakak juga sangat rindu dengan kalian. Bagaimana perkembangan kondisi Hafis?”
            “Alhamdulillah sudah lebih baik kak”
            “Syukurlah Ra, kasian dia masih terlalu kecil sudah harus mengalami sakit separah ini, tubuhnya kurus, padahal dia biasanya selalu buat kita gemas dengan tubuhnya yang gempal”
            Ilmi mendekati Hafis dan duduk di sisi ranjang adiknya. Diusapnya kepala adiknya tersebut hingga terasa olehnya suhu tubuh Hafis yang sangat tinggi. Ilmi merasa keputusannya untuk pulang sangatlah tepat, keluarganya benar-benar dalam kondisi rapuh, setidaknya meskipun dia tidak bisa membantu banyak, dengan berkumpulnya ia kembali dapat memberikan semangat yang saat itu sangat dibutuhkan Ibu dan adik-adiknya.
            Keesokan harinya Hafis semakin menunjukkan tanda-tanda semakin membaik. “Jika memang kondisinya memungkinkan, ia boleh dibawa pulang besok sore”, kata dokter yang memeriksa Hafis malam itu. Ilmi sekeluarga pun sangat senang karena Hafis benar-benar membaik hari itu. Setidaknya selain memang sudah membaik, mereka tidak perlu lagi menanggung biaya klinik yang cukup menguras keuangan mereka yang sangat minim.
            Ilmi dan Aira mempersiapkan makanan untuk dimakan malam itu. Hafis tampak asyik duduk dipangkuan Ibunya, selain karena tubuhnya yang masih lemah, Hafis juga memang sangat manja. Aira pun senang akan kehadiran kembali sosok kakak dihidupnya. Masa-masa pertumbuhannya kearah dewasa benar-benar butuh seorang kakak untuk dijadikan tempat berbagi.
            “Kakak gak balik lagi kan kemedan?” Pertanyaan Aira seakan berharap Ilmi tidak lagi pergi meninggalkan mereka.
            “Kakak belum tahu Ra, kalau memang disini memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan yang mencukupi kebutuhan kita mungkin saja kakak tidak balik lagi kesana”.
            “Ra bisa ikut bekerja kok kak, kakak dulu bisa bantu Ibu sambil sekolah, kenapa Ra tidak”.
            “Jangan Ra, kalian fokus saja sekolah, kakak tidak mau sekolahmu terganggu”.
            “Kita harus kerja sama kak, kakak jangan takut, Ra tetap menjaga nilai-nilai Ra disekolah tetap baik kok”.
            “Sudah jangan bandal, turuti saja nasehat kakak, ada nanti masanya kalian untuk mencari nafkah, tapi sekarang tugas kalian menuntut Ilmi dan harus mendapat nilai terbaik”.
            “Bukan hanya masalah uang kak, tapi kami butuh kakak disini, Ibu terkadang sakit-sakitan, Ra butuh kakak sebagai anak tertua ada disini agar segala masalah bisa kita hadapi bersama”. Kata-kata terakhir Aira cukup keras sehingga terdengar oleh Ibu mereka, sang Ibu pun menghampiri kedua Putrinya guna menengahi perdebatan yang sedang terjadi.
            “Sudahlah Ra, tidak boleh begitu, Kakakmu sudah berkorban banyak, biarkan  dia memutuskan sendiri jalan mana yang harus ditempuhnya. Kakakmu bukan pergi untuk dirinya sendiri melainkan untuk kita semua”.
            Ilmi benar-benar tersentuh hatinya dengan perkataan Ibunya tersebut, Ibunya bisa saja mengatakan rela jika harus ditinggal pergi lagi olehnya. Namun apa yang terlihat olehnya di mata sang Ibu tidaklah sama dengan apa yang diucapkan. Sama seperti Aira, Ibunya juga tampak sangat berharap dia tidak lagi pergi meninggalkan mereka.
            “Tidak Bu, Ilmi tidak akan pergi lagi. Uang bisa dicari dimana saja, tapi keluarga takkan bisa Ilmi temukan selain disini”.
            Aira dan Ibunya benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Ilmi, mereka tidak menyangka Ilmi mau memenuhi permintaan mereka. Sejak saat itu Ilmi memutuskan untuk mencari pekerjaan baru dikampungnya saja. Berharap besar dari relasi bisnis pamannya, akhirnya Ilmi mendapat pekerjaan sebagai buruh di salah satu pabrik terasi dikampung mereka. Meskipun gajinya tidak sebesar yang ia peroleh sebagai seorang kasir, tapi setidaknya dia bisa terus berada ditengah keluarganya.
            Sementara itu, hatinya masih  dirundung kegalauan akan pria yang selalu memenuhi benaknya. Kemungkinan dirinya untuk bisa menerima lamaran Alan pupuslah sudah. Ia tidak mungkin mengecewakan Ibu dan adik-adiknya dengan menikah dan pergi meninggalkan mereka karena kondisi pekerjaan Alan yang sudah menetap dikota lain yang cukup jauh dari tempat mereka.
            Sudah seminggu Ia tidak berkomunikasi dengan Alan. Sedangkan Alan benar-benar harus melewati hari-hari dalam penantian akan keinginannya memiliki gadis yang sangat dicintainya.
            Malam itu tepatnya malam minggu Alan tak kuasa menahan dirinya untuk bertemu Ilmi. Ia begitu Rindu akan pujaan hatinya yang setiap waktu mengisi relung hatinya. Selepas sholat Isya, Alan nekat datang kekost Putri untuk menemui Ilmi, ia tidak perduli jikalau Ilmi marah padanya yang tidak tepat janji menunggu jawaban darinya. Ia telah siap dengan semua resiko meskipun ditolak sekalipun demi terlepas dari segala kegundahan yang beberapa hari belakangan ini selalu menyelimutinya. Saat tiba dikos Putri, Ia disambut baik oleh Putri meskipun Putri tampak terkejut dengan kehadirannya.
            “Ilmi ada kan Put?” Putri bingung harus menjawab apa, ia tahu bahwa Ilmi merahasiakan kepulangannya, tapi Putri juga tidak menyangka Ilmi sampai saat itu belum memberi tahu Alan dimana dirinya. Melihat Alan yang begitu berharap dapat bertemu sahabatnya tersebut membuat Putri Iba dan akhirnya menceritakan semua yang terjadi. Mendengar hal itu Alan shock berat. Nampak jelas kekecewaan mewarnai raut wajahnya. Alan tidak menyangka jika Ilmi harus merahasiakan kepulangannya darinya.
            Malam itu Alan benar-benar diliputi gundah dan gelisah. Ia bingung apa yang harus diperbuatnya. Disamping ia sangat ingin mengetahui jawaban yang akan diberikan Ilmi padanya, Ia juga khawatir dengan keadaan keluarga Ilmi disana. Lama Alan terdiam membisu dikamarnya sambil memegang ponselnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Ilmi dan mencari tahu kebenarannya.
“Halo…Assalamualaikum” Ilmi akhirnya menjawab telpon dari Alan setelah sekitar empat kali ponselnya dibiarkan begitu saja berdering. Mendengar sahutan dari Ilmi, Alan pun senang lah hatinya.
“Waalaikumsalam…maaf Mi kalau aku mengganggumu”
            “Tidak kok Mas”
            Lama mereka terdiam membisu. Ilmi bingung dengan maksud Alan menelponnya. Ia menduga jika Alan tidak sabar menanti keputusannya, namun ia juga berfikiran sepertinya Alan sudah mengetahui keberadaannya. Sementara itu Alan cukup lega hatinya bisa mendengar kembali suara Ilmi yang sudah hampir seminggu tidak terdengar olehnya.
            “Bagaimana kabar Hafis Mi, sudah sembuh kan?”
            Ilmi tidak menduga Alan langsung bertanya akan hal itu, ternyata benar dugaannya bahwa Alan telah mengetahui kepulangannya.
            “Alhamdulillah sudah Mas. Mas maafkan Ilmi karena tidak memberitahukan kepulangan Ilmi kepada Mas”.
            “Tidak perlu minta maaf. Jujur aku sedikit kecewa ternyata aku belum sepenuhnya dijadikan sahabat tempatmu berbagi, tapi memang aku tidak berhak untuk tau sepenuhnya tentangmu”.
            “Bukan begitu Mas, sebenarnya malam itu Ilmi ingin cerita sama Mas, Tapi Ilmi tidak mau Mas mengira Ilmi mencoba menghindar dari Mas”.
            “Iya Mi sudahlah, aku mengerti. Aku menelpon hanya ingin tahu kabarmu dan Hafis, sampaikan salamku pada Ibu ya”.
            “Iya Mas terimakasih, nanti Ilmi sampaikan, tapi jangan tutup dulu telponnya”.
            Alan sempat berdegup jantungnya seakan tahu apa yang hendak disampaikan Ilmi selanjutnya.
            “Sekali lagi Ilmi mohon maaf Mas, Ilmi tidak bisa menerima lamaran Mas Alan”. Ilmi benar-benar berat untuk mengatakan keputusannya saat itu, namun ia juga tidak mampu untuk memendamnya lebih lama lagi, karena sampai kapanpun jawabannya tidaklah berubah.
            “Kenapa Mi, boleh aku tau alasannya?”
            “Mas pasti juga sudah tau kalau Ilmi juga sangat menyayangi Mas Alan, tapi kondisi yang membuat kita tidak bisa bersatu Mas. Ilmi tidak mungkin mementingkan diri sendiri sementara disini Ibu dan adik-adik sangat membutuhkan Ilmi ada diantara mereka. Ilmi sudah mendapat pekerjaan baru disini, Ilmi tidak akan balik lagi kesana. Sementara Mas Alan tidak mungkin meninggalkan kota itu. Disanalah tempat Mas, disanalah Mas mendapatkan rezeki, semuanya sudah cukup jadi alasan kalau kita memang tidak bisa bersatu”. Tanpa disadarinya air mata mengalir semakin deras di pipinya, terasa begitu sakit olehnya saat ia harus menolak semua angan-angan indahnya itu. Ilmi tidak pernah membayangkan sebelumnya aka nada seorang pria yang begitu sepenuh hati menginginkan dirinya untuk jadi pendamping. Hingga akhirnya waktu mempertemukan, disaat itu juga ia harus ikhlas melepasnya karena keluarga lebih utama baginya.
            “Iya Mi, aku bisa memahaminya, terima kasih sudah hadir di hidupku, aku yakin jika memang Ilmi yang telah ditakdirkan oleh-Nya untukku, kita pasti akan bersatu”. Terdengar nada suara Alan mulai rendah, tak terkira lagi hancur hatinya malam itu saat mengetahui semua kenyataan pahit yang harus diterimanya disaat bersamaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar