Jumat, 15 Februari 2013

Pelangi Setelah Hujan

Bissmillahirrahmanirrahim...
Kisah ini dipersembahkan untuk seorang sahabat dimana perjalanan hidupnya benar-benar memotivasiku untuk tetap bersyukur dengan apa yang telah ku miliki saat ini.

Kisah yang menyadarkan kita untuk tetap sabar dalam menghadapi segala cobaan dan tetap berjuang untuk melewati cobaan hidup. Ikhlas menerima segala yang telah digariskan oleh-Nya dan meyakini ada hikmah dibalik semua yang terjadi.
Sebuah novel berjudul "Pelangi Setelah Hujan"



BAB 1
Pasang Surut keluargaku
           
      Ilmi menatap langit yang mulai tertutup awan kelabu pertanda akan segera turun hujan. Ia menyingsingkan rok abu-abu seragam sekolahnya agar bisa mempercepat langkahnya. Satu-persatu teman-temannya berlalu mendahuluinya, bukan jalan kaki sepertinya melainkan menaiki kendaraan meskipun sekedar naik ojek atau becak. Tiga setengah kilo meter harus ia tempuh setiap hari pulang dan pergi demi menempuh harapan menamatkan sekolah dan menggapai cita-cita.
            Beberapa puluh meter menuju rumah akhirnya hujan pun turun begitu derasnya. Ilmi basah kuyup. Sepatunya kotor terkena lumpur. Sesampainya dirumah ia segera mengambil beberapa ember untuk menampung tetesan hujan yang membasahi rumah karena atap yang bocor. Kemudian mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu bergegas mengeringkan pakaian dan mencuci sepatu yang besok harus kembali ia gunakan karena itu adalah satu-satunya seragam sekolah yang ia miliki.
            Setiap harinya seperti itu, bukan hanya basah kuyup karena diguyur hujan, tak jarang juga bajunya basah kuyup karena keringat yang mengucur akibat panasnya sengatan sinar matahari.
            “Bapak dan ibu belum pulang Fis?” tanya ilmi pada adik sulungnya yang masih berumur lima tahun.
            “Belum kak” sambil terus memainkan robot-robot kesayangannya dengan anak tetangga. Robot yang lima tahun lalu masih sanggup dibelikan oleh sang bapak untuk adiknya meskipun dengan harga yang mahal.
            Namun sekarang semua berbeda, tak jarang kami hanya makan dengan nasi putih dan garam  saja. Ibu dan bapak bekerja keras setiap hari demi melunasi hutang-hutang peminjaman uang yang dulu digunakan untuk biaya mengobati bapak dirumah sakit.
            Ilmi terlahir sebagai anak tertua dari keluarga berkecukupan yang berpemukiman dikota besar. Bapaknya bekerja sebagai asisten menejer disebuah perusahaan otomotif, dan sang Ibu hanya sebagai ibu rumah tangga yang setiap harinya mengurus Ilmi dan kedua orang adiknya. Ilmi dan adiknya bersekolah disekolah favorit dan menikmati segala fasilitas yang menunjang kebutuhan mereka.
Empat tahun lalu semua berubah. Bapaknya menderita struk yang terpaksa harus dirawat dirumah sakit selama beberapa bulan. Perusahan menghentikan gaji dan akhirnya memecat bapaknya. Semua tabungan terkuras, mobil, speda motor dan beberapa barang berharga milik keluarganya pun terjual untuk biaya pengobatan. Saat bapaknya pulih, mereka hanya  memiliki rumah yang mereka tempati, hanya itu lah harta yang tersisa. Ibu dan bapaknya memutuskan menjual rumah tersebut dan pindah ke daerah pinggiran dekat keluarga sang bapak. Uang penjualan rumah digunakan untuk membeli rumah kecil yang begitu sempit untuk kami tempati berlima, sisanya digunakan untuk mencicil hutang dengan saudara bapak.
Kami tinggal dengan perabotan seadanya. Tidak ada barang yang tersisa dari kota, semua habis terjual. Suasana baru ini begitu kontras dengan kehidupan Ilmi yang dulu.
Kepindahan mereka bertepatan dengan lulusnya ilmi SMP dan adiknya lulus dari SD. Namun sulitnya ekonomi yang kini di alami keluarganya mengakibatkan adiknya bersekolah dipekan baru diasuh oleh pamannya. Bapaknya takut tidak sanggup membiayai sekolah anak-anaknya sehingga mengikhlaskan anak keduanya diasuh oleh adik sang istri dipekan baru.
Hari hampir senja. Ilmi dan adiknya duduk diberanda rumah menunggu Bapak dan Ibunya pulang. Terlihat dikejauhan dua orang paruh baya berjalan beriringan menginjak beceknya jalanan sisa dari hujan siang itu. Tak ada lagi suara klakson mobil yang dulu sering Ilmi dengar pertanda bapaknya pulang bekerja.
“Assalamulaikum” salam dari kedua orang tuanya serempak saat memasuki rumah.
“Waalaikumsalam” jawab ilmi dan sang adik menyambut gembira. Adiknya pun langsung minta digendong oleh ayahnya, maklum lah, hafis anak sulung yang begitu manja.
“Kapan bapak belikan hafis robot-robotan yang baru”? tanya hafis polos, dia masih terlalu kecil yang masih belum mengerti dengan keadaan.
“Sabar ya sayang, pokoknya nanti hafis Bapak belikan robot-robotan yang baru” jawab bapaknya menenangkan putra sulungnya.
Ilmi dan Ibunya terhenyak mendengar penuturan tersebut, mereka tidak tahu entah kapan janji itu dapat terpenuhi.
“Kamu tadi kehujanan mi?” tanya ibunya melihat seragam sekolah yang ia jemur didapur. “Iya bu” jawabnya sambil membereskan perlengkapan kerja ibunya.
Keesokan harinya seragam itu masih lembab, namun terpaksa harus ia gunakan karena tidak ada seragam lain. Tidak ada alasan untuk tidak sekolah baginya selagi kakinya masih mampu ia gunakan untuk berjalan. Seusai sarapan dengan ubi goreng dan air hangat ilmi bergegas berangkat kesekolah meskipun jalanan masih begitu sepi dan mataharipun belum keluar dari peraduannya.
“Ibu hanya bisa memberi jajan segini nak” sambil memberikan uang jajan seribu rupiah kepadanya.
“Trima kasih bu, ini sudah lebih dari cukup, yang penting bukan jajan, tapi menimba ilmu disekolah” sambil mencium tangan ibunya dan berpamitan dengan bapaknya. Tak jarang uang jajan itu tidak dipergunakan olehnya. Ia lebih memilih menabungnya berharap suatu saat dapat dipergunakan pada saat yang tepat.

Senin, 04 Februari 2013

Penyesalan Terakhir


 Aku masih memperhatikan jam tanganku. Masih satu jam lagi dari waktu janjianku dengan Ilmi. Pekerjaanku begitu menumpuk, hampir  tidak ada waktu bagiku untuk bersantai, apalagi menemaninya entah itu untuk urusan apa, hingga akhirnya aku memutuskan membatalkan janji itu.
 “Mi, perginya dibatalin aja ya, aku mendadak ada urusan” jelasku pada ilmi saat aku menelponnya.
“Selalu batalin janji, kalo memang gak bisa, gak usah janjiin segala, yaudalah” ilmi pun langsung menutup telponku.
Aku sudah bisa menebak, dia pasti akan marah. Itu yang aku gak suka dari dia, sedikitpun gak bisa menahan emosinya, selalu memaksakan apa yang ia mau.
Belum lama hubungan ini ku jalani dengannya, baru berkisar delapan bulan.  Ada sedikit rasa jenuh dihatiku yang aku tidak tahu apa penyebabnya. Ilmi adalah wanita yang baik, setia, terlebih dia juga bisa menerimaku apa adanya.
Namun, belakangan ini kejenuhan itu menghampiriku. Terkadang dia begitu egois, keinginannya harus selalu dituruti. Aku dengan segala rutinitasku menuntut pengertian darinya yang begitu sulit ku dapatkan.
Seperti malam ini, terasa malas bertemu dengannya walau sekedar untuk mengapeli nya di malam minggu. Komunikasi kami akan terputus begitu saja jika aku tidak membujuknya. Padahal yang ku inginkan sifat kedewasaan darinya. 
 Aku pun mencoba menelponnya, namun nihil, dia tidak mau menerima telponku. Ilmi benar-benar manja, mungkin karena terlahir sebagai anak bungsu  yang menjadikan sifatnya selalu ingin menang sendiri.
Terkadang terbesit difikiranku untuk mengakhiri segalanya, tapi aku merasa kasihan dengannya, aku tidak tega menyakiti hatinya. Rasa suntuk benar-benar menghampiriku. Aku benar-benar butuh seseorang untuk berbagi.
           Aku memutuskan pergi kerumah sahabatku vina, dia sahabatku sejak SMP, terkadang aku juga sering curhat ke vina masalah hubunganku dengan Ilmi. Berbeda dengan ilmi, vina begitu dewasa, dia selalu bisa mengerti perasaanku. Tak jarang aku merasa kagum terhadapnya, hati kecilku berharap ilmi bisa memiliki sifat sepertinya. Bahkan sesekali ada keinginanku untuk melepas ilmi dan memiliki vina.
                Aku tiba didepan rumah vina, dia kebetulan sedang duduk diberanda rumahnya sendirian.
“Fis, tumben kamu kesini malam minggu, berantem lagi sama ilmi”? sembari mempersilahkanku masuk
“Biasalah vin, masalah kecil dibesar-besarkan sama dia”.
“cerita donk ke aku”
“uda lha vin, bosan bahas dia terus, intinya dia tetap dengan sikapnya yang hanya mau menang sendiri itu”
“kamu yang sabar ya fis, menghadapi perempuan itu memang butuh kesabaran ekstra”
“iya vin, thanks ya, kita jalan-jalan yuk, aku bete banget nih”
“Boleh, aku ganti baju dulu ya”
Kami pun pergi jalan-jalan mengitari jalanan kota dengan speda motorku, terasa begitu nyaman didekat wanita ini fikirku dalam hati, namun aku juga teringat akan ilmi, aku teringat masa-masa indah saat kami baru pacaran dulu, tidak ada pertengkaran, semuanya berjalan indah.
                Sembari berbincang-bincang, dari arah berlawanan aku melihat Ilmi yang juga sedang bersepeda motor membonceng adik sepupunya, dan kami pun berpapasan.
Aku benar-benar terkejut, aku bisa meilhat bagaimana ekspresi ilmi saat berpapasan denganku tadi, penuh luka kecewa tersirat diwajahnya. Ia pasti benar-benar marah bahkan membenciku.
“Masya Allah Fis, itu ilmi kan”?
“iya Vin” jawabku singkat tanpa bisa berkata-kata lagi.
“tunggu apa lagi, cepat kejar dia, dia bisa salah faham dengan kita” jelas vina.
Aku langsung memutar speda motorku dan mengejarnya, terlihat ilmi juga memacu motornya dengan begitu kencang, namun aku berhasil memotongnya. Dia pun menghentikan motornya.
“Mi, maafin aku, ini gak seperti yang kamu fikirkan” jelasku padanya.
“Tutup mulutmu, aku gak butuh segala omong kosongmu” bentaknya, terlihat ia begitu marah dan membenciku.
“ternyata ini alasan dari semua janji-janji yang kamu batalin ke aku selama ini?, aku benci sama kamu fis”. Ilmi menyalakan lagi sepeda motornya, iya gas dengan sekencang-kencangnya.
Aku mencoba mengejarnya, namun na’asnya,  dari arah kanan ada mobil yang juga  melaju dengan knecangnya, dan tabrakan itu tidak dapat dihindari. Aku menyaksikan sendiri ilmi bersimbahan darah tergeletak tak berdaya.
Hatiku hancur, warga ramai mengerumuni lokasi kejadian, dan akhirnya aku melihat tubuhnya diangkut dengan ambulance.
“Fis, ayo kita susul ilmi kerumah sakit” ajak vina dari belakang.
Aku seakan mematung, rasanya begitu shock, tidak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya kami pun tiba dirumah sakit tempat ilmi dirawat.
Aku melihat keluarganya berkumpul didepan ruang UGD, dan dari kakaknya ku ketahui ilmi kritis karena kehabisan banyak darah. Aku sontak membenci diiriku sendiri, ini semua terjadi karena salahku. Seharusnya aku tidak lari dari masalah dan seharusnya aku kerumah ilmi dan membujuknya, pasti hatinya senang.
Jika memang dia tidak dewasa, mengapa aku juga tidak bisa mencotohkan sikap kedewasaan dengannya, seharusnya aku mengalah, seharusnya aku yang ajari dia untuk tidak selalu memaksakan kehendak ke orang lain. Dan seharusnya........ya...semua sudah terlambat, hanya bisa ku sesali.
Andai malam ini aku bisa sedikit mengalah untuknya, pasti ini tidak akan terjadi. Segala penyesalan itu menari-nari dibenakku. Aku tidak mungkin bisa memaafkan diriku sendiri jika hal yang lebih buruk lagi terjadi dengannya. Aku memukul-mukul kepalaku merasa diriku begitu bodohnya.
Vina mencoba menenangkanku, “udahlah fis, udah takdirnya harus begini, jangan menyalahkan dirimu”.
Tapi tidak semudah itu bagiku menerima kenyataan yang ada, aku lebih memilih dia memarahiku sesuka hatinya daripada melihatnya terbaring tak berdaya seperti sekarang. Dibalik kekesalanku selama ini terhadap sikap ilmi, tersadar aku memiliki cinta yang juga begitu besar untuknya, itu juga yang baru kusadari menjadi alasan mengapa selama ini aku tidak mampu meninggalkannya.
Selang beberapa saat kemudian dokter memberi tahu bahwa ilmi telah selamat dari masa-masa kritisnya, dia dapat tertolong karena cepat mendapatkan transfusi darah. Aku benar-benar bahagia. Aku tidak tahu betapa bencinya aku akan diriku sendiri jika ilmi tidak terselamatkan.
Sudah lima hari ilmi terbaring dirumah sakit dan belum juga sadarkan diri. Setiap hari pula aku datang menjenguknya, jika diizinkan, akupun rela menemaninya dalam lelap istirahatnya.
Semakin hari semakin aku sadar aku benar-benar menyayanginya.  Aku menyadari betapapun pucatnya ia dalam sakitnya, namun ia tetap terlihat cantik dan mempesona. Aku menginginkan ia secepatnya siuman agar aku bisa meminta maaf atas segala kesalahanku padanya.
Hari ketujuh saat aku berada disis tempat tidurnya, dia mulai menggerakan tangan dan membuka matanya. Seluruh keluarga begitu senang, terlebih aku. Aku melihatnya tersenyum lagi, tapi rasanya  aku penuh dosa hingga memutskan untuk pergi, aku takut ilmi malah jadi down lagi melihatku. Namun saat aku melangkah pergi, aku tak menyangka dia memanggilku.
“Fis, mau kemana, kok pergi”?
“Udah satu minggu kamu nemenin aku disini, nangis penuh penyesalan disampingku, masak saat aku siuman kamu malah pergi, jahat” tuturnya dengan suara yang terdengar begitu lemah.
Aku berbalik dan memeluknya, aku sangat merindukannya.
“Tapi kamu kok tau aku disini selama ini nemenin kamu”? tanyaku heran.
“Yang lumpuh kan tubuhku, tapi batinku masih sadar” jawabnya asal. Aku pencet hidungnya, dan dia menjerit manja.
“Aku minta maaf mi, aku salah sebagai pacar gak bisa memahami karaktermu, aku terlalu menuntutmu sesempurna yang ku harapkan.
“Aku rindu dimarahi olehmu, rindu melihatmu merajuk, rindu dengan sifat keras kepalamu yang gak pernah mau ngalah kalo ngomong”. Jelasku sambil kembali memeluknya. Ilmi tertawa, dia mencubitku.
“Kok malah ngomongin kekuranganku terus sih, ini pernyataan bersalah atau malah menghakimi”? tanyanya yang membuatku juga tertawa.
“Aku juga banyak salah Fis, egoku begitu tinggi, keras kepala, pasti kamu sering kesal gara-gara aku. Masalah kecelakaan ini bukan salah kamu fis, aku aja yang memang ceroboh, untung Allah masih baik izinin aku buat ketemu kamu lagi dan minta maaf, kalo enggak, gak kebayang aku bakal gentayangan cemburu setengah mati liat kamu jadi milik orang, hehehe”. Kami kembali tertawa.
Begitulah ilmiku, dibalik segala kekurangannya, dia punya hati yang mulia yang takkan pernah kubiarkan tersakiti lagi oleh kebodohanku.









Rabu, 21 November 2012

Dia Jahat Ibu

Skenario kisah ini terlalu memuat peran yang menyedihkan untukku.
Aku lelah dengan peran yang selalu ditindas si Antagonis.
Bahkan dalam sinetron pun seorang budak diperkenankan untuk hidup bahagia, tetapi kenapa dunia nyata sepertinya terlalu kejam..??
Aku saja sampai lupa kapan terakhir tersenyum bahagia, kenyataan yang miris.

Lihat dirimu, lalu tatap aku, tidakkah kau sadar bahwa tanpa kau sakiti pun aku sudah begitu lemah??
Belum puas jugakah kecewakan si wanita yang tak berharga ini?
Aku tidak berharap kau bahagiakan, tidak mengecewakanku lagi saja sudah cukup.
Seharusnya itu hal yang mudah jika kau sayangi aku.
Ku upayakan segala hal yang buatmu senang, aku tidak minta balasan apapun, sedikit saja hargai aku.
Tapi sayangnya, dihargaipun sepertinya aku tidak berhak olehmu.
Kau kejam!!

Dia jahat Ibu
:'(
Bu, ajari aku memaafkannya


Selasa, 20 November 2012

Aku Gagal


Aku  dipermalukan oleh amarah.
Emosional menertawakanku dengan bangganya.
aku dikalahkan ego..
Kekecewaan meronta ingin menampar nafsu yg terus mencemooh diri

Pribadiku tak lagi bersahaja dimatanya
aku pendidik yang biarkan sang buah hati terluka
aku pendidik yang biarkan buah hati berlalu dihasut resah

Wajah polosnya penuh luka kecewa
Tersirat air mata ingin aliri pipi halusnya
Secuil harapan inginkan panggilanku tuk tahan langkahnya
Aku yang hanya mematung penuh keangkuhan
merasa diri penuh kebenaran

Aku kalah dalam peperangan ini
Aku gagal tuk bisa diteladani
Maafkan kakak yang jauh dari kesempurnaan ini





Minggu, 04 November 2012

SoulMate



            Akhirnya aku diterima disekolah  itu, salah satu sekolah menengah atas yang menjadi favorit di kampung halaman ku. Sejalan waktu aku mulai memiliki banyak teman termasuk berteman akrab dengan Ridwan dan Nia. Namun siapa yang bisa menyalahkan jika diantara persahabatan yang terjalin akhirnya tumbuh rasa cinta. Begitulah yang ku ketahui dari dua orang sahabatku itu.
            Namun mungkin bagi mereka persahabatan sangatlah berharga sehingga mereka lebih memilih mengekang rasa cinta yang ada demi menjaga hubungan persahabatan.
            Nia mulai membuka hati untuk yang lain, meskipun menurutku dihatinya masih tersimpan rasa sayang yang begitu besar pada Ridwan. Nia mengatakan padaku dia tidak ingin mengecewakan Aldi yang selama ini berupaya keras mendekatinya dan telah memberi perhatian lebih padanya dan akhirnya mereka resmi berpacaran.
            Mengetahui hal itu, Ridwan tetap berupaya untuk ikhlas, meski dalam lubuk hatinya begitu kecewa. Dia mengatakan padaku akan berusaha mengikhlaskan jika memang itu bisa membuat Nia bahagia.
            Hari minggu itu kami pun pergi bertamasya ke salah satu tempat wisata didaerahku. Kami berboncengan dengan speda motor bersama pasangan masing-masing, namun di hari itu Ridwan tidak mau ikut, aku bisa membaca ada kecemburuan di matanya jika melihat Nia bersama yang lain.
“Maaf Din, kalian aja yang pigi, aku gak bisa ikut karena ada urusan keluarga” jelas Ridwan padaku.
“Yaudah kalo memang gak bisa ikut jangan dipaksakan, aku tau kok wan alasan sebenarnya” aku menepuk pundak Ridwan dan berlalu darinya.
Namun belum sempat aku beranjak jauh, Ridwan berseru “Tolong jaga Nia baik-baik ya Din”, aku pun terhenti “Iya tenang aja, Nia aman bersama kami, Aldi  pasti bisa jaga dia Wan”.
            Terkadang aku tidak habis fikir dengan pilihan yang mereka buat, bagiku tidak masalah jika memang mereka mau menjalin hubungan lebih dari sahabat, tapi pasti ada alasan yang lebih kuat bagi mereka berdua sehingga memilih keputusan tersebut.
            Perjalanan pun kami mulai, sekitar empat speda motor berjalan beriringan dengan kecepatan yang standart menuju tempat wisata akan kami datangi. Aku melihat senyum disemua wajah sahabatku, begitupula Nia. Meskipun bagiku hari itu kurang sempurna tanpa kehadiran Ridwan, karena kami baru ini pergi tanpa dia.
              Kendaraann kami melaju beriringan dijalanan, aku dan Nico dibarisan terdepan, disusul oleh teman yang lain dibelakang kami,sedangkan Nia dan Aldi di posisi paling belakang.
            Beberapa saat kemudian kami tiba ditempat tujuan kecuali Nia dan Aldi, kami tidak melihat mereka. Kami pun menunggu sejenak. Menurut teman yang lain mereka memang tertinggal dibelakang. Kami pun mengerti, mungkin karena terlalu asyik ngobrol dalam nuansa manis orang baru jadian. Namun hampir setengah jam kami menunggu, mereka tidak juga tiba di lokasi.
            Beberapa saat kemudian Aldi menghubungi kami, dengan suara gugup dia mengatakan bahwa mereka kecelakaan karena tabrakan. Sejenak situasi begitu panik, kami pun bergegas menyusul kembali mereka. Aku begitu takut akan keadaan mereka. Sesampai ditempat kejadian, kami mendapati aldi dengan tubuh penuh luka, speda motor yang mereka kendarai rusak parah, namun yang lebih parah lagi, Nia tidak sadarkan diri karena terjatuh dan kepalanya terbentur batu. “ Tadi sebelum pingsan dia sempat muntah darah” jelas Aldi.
            Warga pun mulai datang berbondong menolong kami, Nia segera kami bawa kerumah sakit terdekat. Nia belum juga sadar, namun sudah ditangani oleh dokter. Untuk sementara dokter memfonis Nia geger otak karena benturan keras dikepalanya. Kami semua begitu terkejut, tidak menyangka hari itu akan terjadi musibah pada kami.
            Aku begitu panik, tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana reaksi kedua orang tuanya jka tau anaknya terbaring kritis dirumah sakit. Begitu juga dengan Ridwan, dia pasti tidak akan terima satu pun hal buruk terjadi pada Nia.
            Tiga jam sudah nia masuk dalam ruang UGD, namun tidak juga menampakkan kondisinya akan membaik. Ibunya menangis disisinya. Begitu juga dengan Ridwan, dia marah pada kami semua karena tidak bisa menjaga Nia. Terutama pada Aldi, hampir saja terjadi perkelahian antara mereka, namun kamu cepat melerai mereka. “Ini sudah takdir yang memang pasti terjadi, jadi tidak ada yang bisa disalahkan” aku berupaya menengahi mereka. “Bukan Cuma kamu wan, kami semua sayang Nia” kata teman-teman yang lain menambahi.
            Tepat pukul delapan malam, Nia menghembuskan nafas terakhirnya. Nia pergi meninggalkan kami semua. Isak tangis memenuhi ruangan itu. Kami tidak menyangka hari itu akan kehilangan salah satu sahabat terbaik kami. Begitu juga kedua orang tua Nia yang harus kehilangan putri tercintanya.
            Seminggu berlalu setelah kejadian itu, selalu ada yang kurang bagi kami, tidak ada lagi senyum manis dari Nia. Tidak ada lagi canda tawa bersamanya. Begitu juga dengan Ridwan. Tidak pernah lagi ada semangat diwajahnya.
            Menjelang ujian kenaikan kelas, kami semua disibukkan dengan tugas-tugas, begtiu juga dengan persiapan menjelang ujian.
            Satu persatu ujian kami lewati. Tiga hari menjelang pembagian Rapor para guru disibukkan oleh tugas mereka masing-masing seperti mengurus nilai murid-muridnya. Kami pun tidak lagi melakukan kegiatan pembelajaran. Pagi itu setiba dikelas, aku berkumpul dengan teman-teman lain, namun aku belum melihat Ridwan, tidak biasanya dia belum kelihatan jam segitu. “Tumben si Ridwan belum keliatan” tanya salah seorang teman. “Macet mungkin dijalan” jawabku.
            Terdengar pengumuman dari sekolah, “Diberitahukan kepada seluruh siswa-siswi agar lelebih berhati-hati dalam berkendaraan, baru saja Siswa kelas X-3 yang bernama Ridwan jatuh dari sepeda motornya saat hendak menuju sekolah, sekarang sedang ditangani di Rumah sakit”.
            Kami semua shock mendengar pengumuman tersebut, tubuhku refleks melemah tak berdaya. Sepulang sekolah kami semua murid X-3 mengunjungi rumah sakit tempat Ridwan dirawat. Namun menurut perawat rumah sakit tersebut, Ridwan dibawa kerumah  sakit lain karena mereka mengaku tidak sanggup menanganinya.
            Air mata menetes dipipiku dan para sahabat, rasa sedih akan kehilangan Nia belum hilang dari benak kami, kini kami mendengar berita buruk tentang Ridwan. Kami semua mengirim sms ke Ridwan ungkapan doa semoga dia dapat bertahan dan bisa kembali bergabung dengan kami.
            Aku pulang kerumah dengan langkah gontai, badanku terasa akan demam, mungkin karena terlalu shock sehingga semangatku jadi melemah. Aku merebahkan diri dikasur  dan teringat kemarin saat Ridwan mengatarku pulang kerumah, kemudian dia curhat akan rasa rindunya kepada Nia. Aku tidak habis  fikir kenapa hal ini bisa terjadi pada dua sahabat terbaikku. Dalam hati aku terus berdoa akan keselamatan Ridwan, semoga dia bisa kuat melewati masa-masa kritisnya.
            Ridwan tiba didepan rumahku. Aku menatapnya aneh. Dia terlihat pucat dan tak berdaya. Dia datang menghampiriku yang saat itu sedang duduk diteras rumah.
 “Din aku mau pamit” ucapnya.
 “Mau pergi kemana wan?” tanyaku heran.
“Aku ingin menemani Nia Din” jawabnya kemudian berbalik arah dan pergi begitu saja.
“Wan jangan pergiiiiiiii....” aku menjerit berusaha mencegahnya hingga akhirnya aku terjaga dari tidurku.
“Astaghfirullah, ternyata mimpi”, aku terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuhku. Aku tersadar bahwa aku tertidur saat pulang sekolah tadi.
Aku mengambil Handphone ku dan mmelihat banyak missed call dan sms dari temanku.
Akupun membaca sms tersebut satu persatu :
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un, semoga Ridwan tenang disana”
“Sekali lagi kita kehilangan sahabat terbaik kita, semoga amal ibadah Ridwan diterima-Nya”
Air mata itu mengalir dipipiku, ternyata Ridwan benar-benar pamit denganku lewat mimpi tadi.
Aku yakin ini adalah takdir yang sudah digariskan kepada dua orang sahabat terbaikku itu, Sang ilahi lebih memilih mereka untuk berjodoh di surga.
Selamat jalan sahabat, namamu akan selalu ada dihati kami..

           
           
             

Pelatihan kemarin...

Memasuki semester 7 di masa perkuliahanku hanya memunculkan satu hal didalam benak, Apakah aku bisa melewati program latihan mengajar itu kelak?
Itu dan itu terus.
Aku menyadari diri yang hanya bermodal penguasaan konsep.
Bagaimana kelak menguasai kelas?
mengamankan suasana kelas?
Apa aku mampu?
Namun aku juga berfikir, yang penting niatku benar-benar tulus ingin berbagi ilmu pada mereka, menjadi bagian dari mereka yang kelak jika mereka butuh, Insya Allah aku akan hadir membantu..
Ya..itu saja..
Hingga akhirnya penempatan itu meletakkan ku disuatu sekolah yang terbilang cukup menantang kemampuan akademik.
Aku pasrah. Allah pasti berencana baik dibalik semua ini.

Hari Pertama
Memasuki gerbang sekolah itu  dengan rasa gugup, "Tempat ini begitu asing bagiku", fikirku dalam hati. Namun rasanya begitu nyaman, berada dilingkungan yang bernuansa islami, dimana karakter ramah-tamah dan saling menghormati benar-benar ditegakkan. Aku pun dihadapkan dengan sejumlah jadwal yang untuk 3 bulan kedepannya harus dijalani. Satu hal lagi yang membuatku senang, guru pembimbingku begitu baik. Ternyata benar, Allah berencana baik.

Hari Kedua
Pertama kalinya memasuki kelas seorang diri, aku disuruh mengamankan murid-murid itu karena gurunya belum datang. Really nervous. Sambutan acuh dari mereka, sedikit terkesan disepelekan, maklumlah jika mereka mengetahui statusku disekolah.

Setelah satu minggu

Aku mulai menikmati kegiatan ini, awalnya aku berfikir jadi guru itu sulit, ternyata tidak seutuhnya benar. Mereka cukup welcome dengan cara mengajarku. Aku tidak berharap banyak, asal mereka bilang mengerti saja itu sudah lebih dari cukup.
Mencoba memahami karakter mereka, membaur dengan mereka, itulah yang ku lakukan.

2 Bulan berlalu

Kehadiranku mulai di nanti, bukan hal yang sering terjadi untuk mata pelajaran Matematika. Terkadang interaksi yang terjadi bukan selayaknya guru dan murid, melainkan kakak dan adiknya. Tapi aku merasa mereka nyaman akan hal itu.

Hari-hari menjelang usai
Mereka tidak menginginkanku pergi. Respon yang begitu tidak terduga. Aku pun seperti mereka, merasa memiliki keluarga baru, menyayangi mereka.

Hari itu

Langkah ku pasti menuju ke kelas. Tidak seperti biasanya. Mereka tidak menunggu.
Hati kecilku sedih, bukan begini yang ku mau.
Untuk pertama dan yang terkahir kalinya mereka tidak respect padaku. Dan lebih parah lagi, mereka menentang semua yang ku katakan.
Kesabaranku habis. Spontan aku beranjak pergi, aku hanya tidak ingin marah dan memilih pergi. Mereka mengejarku, membujuk untuk kembali. Surprise ulang tahun dan perpisahan ternyata yang telah mereka rencanakan. Aku tidak menyangka. Aku senang namun sedih. Sambil bertutur terimakasih aku pun meneteskan air mata. Air mata bahagia. Ternyata muridku sudah dewasa dan mereka menyayangiku.