Senin, 04 Juni 2012
Broken Heart
Rasanya begitu penat menjalani kulyah seminggu ini, begitu banyak tugas yang harus dikerjakan. Ingin skali rasanya hari minggu ini menghabiskan waktuku bersama Raka pacarku, Hanya dia yang selalu bisa memotivasiku untuk terus bersemangat. Terkadang hanya denggan melihat senyumnya saja sudah bisa menghapus segala lelahku.
Menjalani hubungan yang hampiir 4 tahun dengannya membuatnya begitu mengerti tentang aku. Terkadang aku berfikir mungkin dialah pangeran yang yang diciptkan-Nya untukku. Begitu banyak hal-hal indah yg telah kami lalui bersama dan semua memori itu terekam dan tidak mungkin terhapus dari ingatanku.
Seperti biasa setelah mengirim sms untuk mengajaknya pergi jalan, beberapa menit kemudian dia tiba untuk menjeputku, hari itu begitu indah, tidak perlu hal-hal mewah atau tempat yang indah, bisa selalu bersamanya saja merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagiku.
Tidak beda halnya dengan orang-orang pada umunya, hubungan kami juga tidak terlepas dari keposesifan, terkadang batasan-batasan yang dia buat untukku mengakibatkan aku juga terpaksa harus bersikap posesif padanya. Cemburu merupakan pertanda dia menyangi kita juga terkadang dijadikannya senjata untuk mengekangku, namun sejauh itu masih bisa ku jalani, aku lakukan dengan ikhlas asalkan hubungan itu tetap berjalan dengan baik.
Seperti biasanya setelah lelah berkeliling, kami singgah disebuah kafe, memesan makanan dan kembali bercanda gurau, dia termasuk pria humoris yang selalu bisa buat aku tertawa. Hingga akhirnya HP ku menerima sebuah sms dari seorang teman lelaki yang tidak lain teman sekelasku dikampus. “Siapa Dil?” tanyanya padaku, aku menangkap respon penyelidikan darinya dan ku jawab pertanyaan itu dengan jujur, “Temen sekelasku” kemudian ku jelaskan padanya siapa dia dan aku perlihatkan padanya isi sms itu. Aku melihat tidak ada raut amarah diwajahnya, hingga akhirnya kami pun pulang. Setelah dia mengantarku, dia pun pamit hendak pulang, namun sebelum membiarkannya pulang, aku memastikan dia tidak menyimpan unek-unek dalam hatinya atas kejadian tadi, karena aku begitu mengenal wataknya yang sangat pencemburu. “Kamu gak marah kan sama aku karena sms tadi” tanyaku padanya. “Gak koq Dil, tenang aja, aku pulang dulu ya”. Dia pun pulang dan ternyata hari itu adalah hari terakhir kami jalan bersama.
Ku fikir senyum terakhir yang ia berikan menandakan semuanya baik-baik saja, namun aku salah, bibir tersenyum itu menyembunyikan hati yang terbakar cemburu, aku tidak menyangka setelah dari rumahku dia mencari tau segala informasi tentang siapa tadi yang mengirim sms padaku, ternyata penjelasan yang kuberikan padanya tidak cukup meyakinkan dirinya bahwa aku jujur padanya. Dan aku tidak tahu darimana ia mendapatkan informasi tentang temanku itu sampai-sampai informasi itu menyebutkan temanku itu memiliki kedekatan spesial denganku.
Keesokan harinya aku terkejut melihat Raka yang tanpa memberitahu terlebih dahulu tiba-tiba telah berada diteras rumahku. Aku merasa ada yang tidak beres hari itu, selain sms ku yang tidak dibalas sejak pagi hingga kedatangannya yang begitu mendadak. Namu aku tetap menyambutnya dengan ramah, “Kamu datang kok gak bilang2, untung aku langsung pulang”, belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Raka langsung menyela “Kenapa, ada rencana jalan2 dengan teman spesialmu itu ya Dil?” ucap Raka begitu ketusnya padaku. Aku begitu tidak menyangka dengan respon yang dia berikan, selama hampir 4 tahun aku menjalin hubungan dengannya, tidak sekalipun dia pernah mengucapkan kata-kata yang kasar padaku. “Kamu koq ngomong gitu, teman spesial apa?, kamu marah tentang sms semalam?” aku tetap berusaha meredam suasana, aku tidak ingin membalas api dengan api, meskipun hatiku begitu sakit mendengar tuduhan yang tidak pernah ku lakukan. “Udahlah Dil, gak usah sok baik lagi didepanku, kamu gak bisa dipercaya, kecewa aku sama kamu, gak nyangka aku kamu nyalah gunain kepercayaan yang aku kasi buat kamu” Raka mulai memperjelas amarahnya, tanpa perduli aku yang tidak pernah kuat mendengar orang lain berkata-kata kasaar didepanku. “Aku gak ngerti maksud kamu Ka, jangan fitnah aku sembarangan, kenapa seh gak bisa sedikit aja kamu tuh percaya kalo aku gak pernah berkhianat, bahkan untuk berteman dengan laki-laki lain aja ku sering menjaga jarak dengan mereka” aku coba untuk tetap menguatkan hati untuk menjelaskan padanya bahwa aku tidak salah.
“Terserah kamu mau bilang apa, aku udah gak percaya lagi sama kamu, aku gak mau lagi ngejalanin hubungan dengan perempuan penipu” Raka pun beranjak dari tempat duduknya hendak pulang tanpa memperdulikan air mata itu hampir mengalir dipipiku. Aku mencoba mencegahnya dengan menarik lengannya kemudian menjellaskan padanya bahwa aku tidak bersalah “Please dengerin aku dulu, aku udah jujur sama kamu, kasi tau aku siapa yang udah fitnah aku kayak gini”. “Kamu gak perlu tau siapa orangnya, yang pastinya aku gak bisa percaya sama kamu lagi, kita Putus”
Raka kemudian berlalu meninggalkanku yang berdiri mematung tak percaya dengan kata-kata yang baru kudengar. Begitu mudahnya ia mengucapkan kata-kata putus tanpa pernah memikirkan hancurnya perasaanku. Aku diputuskan atas kesalahan yang tidak pernah ku perbuat. Bagaimana bisa cintaku dibalas penindasan seperti ini. Aku yang selalu menjaga agar hubungan ini tetap berjalan baik ternyata akhirnya hanya bisa membiarkan air mata itu menetes begitu banyak. Andai dia tau yang sebenarnya bahwa aku selalu memujanya bahkan tidak pernah seorang pun singgah dihati ini sejak aku mengenalnya. Keegoisannya tumbuh tanpa ampun saat ia merasa terkhianati, tapi layakkah itu kuterima atas kesalahan yang tidak perna ku perbuat??
Sabtu, 02 Juni 2012
Rabu, 23 Mei 2012
Akulah Dia, Dia itu Kamu
Mari lebih peka membaca situasi, cintai yang layak dicintai, karena akan begitu indah jika memang cinta itu diberikan kepada dia yang berhak menerimanya...Namun terkadang kita lalai, mencari dia yang sebenarnya ada didekat kita. Kisah ini hanya fiktif, namun relaitanya banyak terjadi dimasyarakat. Semoga bisa jadi acuan untuk anda yang sedang mencari cinta sejati
^_^
"Akulah Dia, Dia itu Kamu"
^_^
"Akulah Dia, Dia itu Kamu"
“Tar”
“Tariiiiiii....”
“Kamu dari tadi aku panggil masak gak dengar seh?” tanya Rian.
“hmmmm..maaf yan, aku buru-buru, kamu pulang aja duluan, aku masih ada urusan di biro administrasi” sahut Tari.
“Owh, gitu ya..yaudah..nanti malam aku kerumahmu ya Tar, ada yang mau aku ceritain neh, aku butuh pendapatmu”
Tari akhirnya menghentikan langkahnya, “cerita apa, berantem lagi ama pacarmu..?” tanyanya pada Rian.
“Kamu kenapa seh Tar?, jutek amat, gak biasanya, kalo gak boleh yaudah”
“Maaf yan, aku banyak fikiran, jadinya agak sensi, yaudah kamu datang aja, sms aja nanti, OK”
“Siippp..gitu donk best friend ku”, Rian beranjak meninggalkan Tari yang masih berdiri terpaku.
Tari menghela nafas, iya sudah tau apa yang akan diceritakan sahabatnya tersebut, yang tidak lain tentang pacarnya. Sejak mereka bersahabat, Rian selalu curhat masalah pribadinya ke Tari, dan Tari selalu dengan senang hati mendengarkannya. Namun berbeda halnya dengan setahun belakangan ini, Tari mulai merasa jengkel jika harus mendengar Rian menyebut nama wanita lain dihadapannya, apalagi Rian sampai menyukainya. Tari mencoba menepis perasaan spesial dihatinya terhadap Rian, namun ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri kalau dia benar-benar jatuh cinta pada sahabatnya tersebut. Apalagi jika sahabatnya tersebut dikecewakan oleh wanita lain. Tapi sayangnya Rian tidak pernah menyadari hal itu. Dia selalu menganggap perhatian yang diberikan Tari padanya hanya sebatas persahabatan saja. Bukan berarti Rian tidak menyayangi Tari, namun Rian lebih bisa berkomitmen dalam menjaga hatinya.
“Tariiiiiii....”
“Kamu dari tadi aku panggil masak gak dengar seh?” tanya Rian.
“hmmmm..maaf yan, aku buru-buru, kamu pulang aja duluan, aku masih ada urusan di biro administrasi” sahut Tari.
“Owh, gitu ya..yaudah..nanti malam aku kerumahmu ya Tar, ada yang mau aku ceritain neh, aku butuh pendapatmu”
Tari akhirnya menghentikan langkahnya, “cerita apa, berantem lagi ama pacarmu..?” tanyanya pada Rian.
“Kamu kenapa seh Tar?, jutek amat, gak biasanya, kalo gak boleh yaudah”
“Maaf yan, aku banyak fikiran, jadinya agak sensi, yaudah kamu datang aja, sms aja nanti, OK”
“Siippp..gitu donk best friend ku”, Rian beranjak meninggalkan Tari yang masih berdiri terpaku.
Tari menghela nafas, iya sudah tau apa yang akan diceritakan sahabatnya tersebut, yang tidak lain tentang pacarnya. Sejak mereka bersahabat, Rian selalu curhat masalah pribadinya ke Tari, dan Tari selalu dengan senang hati mendengarkannya. Namun berbeda halnya dengan setahun belakangan ini, Tari mulai merasa jengkel jika harus mendengar Rian menyebut nama wanita lain dihadapannya, apalagi Rian sampai menyukainya. Tari mencoba menepis perasaan spesial dihatinya terhadap Rian, namun ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri kalau dia benar-benar jatuh cinta pada sahabatnya tersebut. Apalagi jika sahabatnya tersebut dikecewakan oleh wanita lain. Tapi sayangnya Rian tidak pernah menyadari hal itu. Dia selalu menganggap perhatian yang diberikan Tari padanya hanya sebatas persahabatan saja. Bukan berarti Rian tidak menyayangi Tari, namun Rian lebih bisa berkomitmen dalam menjaga hatinya.
HP Tari
berdering, ternyata sms dari Rian, “Tar aku datang ya”, Tari pun membalasnya,
“yaudah, dtg aja”. Beberapa menit kemudian Rian pun tiba dan disambut hangat
oleh Tari.
“Kamu mau cerita apa seh yan?”, Tari memulai pembicaraan. “Aku diputusin sama Indri tadi malam, gara-gara aku belakangan terlalu sibuk sama kulyah aku, aku mesti gimana Tar?’”
“Masak dia g bisa seh ngertiin kamu dikit, kita kan udah mau tamat, wajar donk agak sibuk” jawab Tari sewot. “Itu dia masalahnya Tar, dia gak bisa ngerti, padahal aku udah mulai serius ngejalanin hubungan kami”. Hati Tari teriris mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Rian. “Kalo memang gitu, kamu usaha aja lagi Yan, minta pengertian dia, kamu juga harus bisa ngertiin perasaan dia yang butuh diperhatiin” Tari tetap mencoba memberikan nasehat padahal hatinya tidak senada dengan apa yang dia ucapkan. “Iya dech Tar, nanti aku usahakan lagi, susah banget ya Tar dapetin pacar yang bisa nerima kita apa adanya”, Tari tehenyak, ingin sekali dia mengatakan “Aqu lah dia yang selama ini kamu cari, tapi sayang, kau tidak pernah menyadari itu.
“Kamu mau cerita apa seh yan?”, Tari memulai pembicaraan. “Aku diputusin sama Indri tadi malam, gara-gara aku belakangan terlalu sibuk sama kulyah aku, aku mesti gimana Tar?’”
“Masak dia g bisa seh ngertiin kamu dikit, kita kan udah mau tamat, wajar donk agak sibuk” jawab Tari sewot. “Itu dia masalahnya Tar, dia gak bisa ngerti, padahal aku udah mulai serius ngejalanin hubungan kami”. Hati Tari teriris mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Rian. “Kalo memang gitu, kamu usaha aja lagi Yan, minta pengertian dia, kamu juga harus bisa ngertiin perasaan dia yang butuh diperhatiin” Tari tetap mencoba memberikan nasehat padahal hatinya tidak senada dengan apa yang dia ucapkan. “Iya dech Tar, nanti aku usahakan lagi, susah banget ya Tar dapetin pacar yang bisa nerima kita apa adanya”, Tari tehenyak, ingin sekali dia mengatakan “Aqu lah dia yang selama ini kamu cari, tapi sayang, kau tidak pernah menyadari itu.
“Oia
Tar, belakangan ini status fb mu galau terus, siapa seh laki-laki yang bisa
buat seorang Tari galu?” Rian mulai mengganti topik pembicaraan. “Gak kok Yan,
Cuma status iseng-iseng doang” Tari terpaksa membohongi Rian, karena tidak
mungkin Tari mengatakan “kamu lah dia yang selama ini buat kekacauan dihatiku”.
“Gak enak, udah mulai gak terbuka sama aku”, Rian kesal merasa sekarang banyak
perubahan pada Tari, terlebih banyak hal yang ditutupi Tari dari Rian. Tapi
Rian tidak pernah memaksa sahabatnya tersebut untuk berbagi hal yang memang
sulit untuk diceritakan ke orang lain. Rian tau, Tari adalah sosok wanita yang
tegar dan tau apa yang harus dia perbuat. Jauh didalam hatinya, dia begitu
mengagumi sahabatnya tersebut, terkadang ia berfikir kenapa harus mencari yang
lain, didepan matanya ada seorang wanita yang baginya begitu sempurna, namun
rasa takut mengecewakan sahabatnya tersebut yang akhirnya dapat merusak
persahabatan mereka membuat Rian mengurungkan niat itu.
Pagi itu begitu cerah, sebagai
mahasiswa yang sudah hampir tamat, begitu banyak urusan yang harus
diselesaikan. Rian berniat menuju Ruang dekan fakultas, dan melewati mading
kampus, namun pagi itu, mading begitu ramai dikerumuni orang, Rian pun tertarik
melihat, ia mendatangi mading dan mencari tahu pengumuman apa yang sedang
dilihat oleh orang-orang. Akhirnya Rian mengetahui bahwa itu adalah pengumuan
Mahasiswa/i yang mendapatkan beasiswa mengambil S2 diluar negeri. Namun yang
membuat Rian begitu terkejut ialah ada nama Tari pada salah satu mahasiswi yang
mendapat beasiswa. Selama ini Tari tidak pernah menceritakan masalah beasiswa
tersebut padanya. Selama 2 hari ini, Setelah kerumahnya 2 hari yang lalu, Rian
tiidak pernah lagi bertemu Tari, Tari jarang membalas sms-smsnya, dia hanya
mengatakan dia banyak urusan. Rian mencoba mencari Tari dikelasnya, namun tidak
juga menemukannya. Kata teman-temannya, dua hari ini Tari tidak kekampus.
Sepulang dari kampus Rian pun berniat mampir kerumah Tari, Ia begitu rindu pada
sahabatnya tersebut, sekalian Rian ingin mengucapkan selamat atas beasiswa yang
diterima Tari, meskipun Rian tau, dia bakalan sulit untuk bertemu lagi dengan
Tari jika memang Tari mengambi beasiswa ke luar negri tersebut.
Sesampainya dirumah Tari, ibu Tari menyambut Rian dan
mengatakan bahwa Tari sudah pergi ke Malaysia sejak 2 hari yang lau, mengurus
beasiswa yang ia terima dari kampus. Kemungkinan Tari akan terus menetap
disana, dan ijazahnya akan dikirimkan saja, karena begitu repot jika dia harus
bolak-balik. Rian tertegun mendengar penjelasan ibu Tari, ada perasaan senang,
dan sedih yang luar biasa dalam hatinya, ia tiba-tiba merasa begitu kehilangan,
kehilangan sahabat yang begitu ia sayang, sahabat yang selama ini begitu
mengerti akan dirinya. Rian juga merasa kecewa Tari merahasiakan segalanya
darinya, Termasuk pergi begitu saja tanpa pamit padanya. Tari memang pergi
untuk kembali, tapi itu entah kapan. Segala hal yang kini berkecamuk difikiran
Rian terbuyarkan, Ibu Tari tiba-tiba memberikan Rian sebuah surat yang
ditinggalkan Tari untuknya.
Dear Best Friend
Maaf ya Yan, selama ini aku menyembunyikan pengambilan beasiswa ini, karena aku gak yakin bakal ngedapetinnya. Tapi ternyata aku berhasil. Aku ingin sekali berbagi kebahagiaan ini padamu, tapi aku takut berbagi denganmu akan membuatku lemah, aku takut tidak sanggup pergi jika harus melihat senyummu. Aku gak tau Yan, sejak kapan dirimu begitu spesial melebihi seorang sahabat dihatiku, aku tidak bisa menjaga hati untuuk tidak mencintaimu. Dirimu terlalu spesial sampai hati ini tidak pernah membiarkanku menyukai yang lain. Bagaimana aku tidak galau jika orang yang ku sayang tersakiti, bagaimana aku tidak resah jika orang yang ku cintai mencintai yang lain. Aku ingin membawa perasaan ini pergi bersamaku tanpa memberitahumu, tapi rasanya itu bukan yang terbaik, menyembunyikannya akan membuatku semakin terluka. Dan sekarang aku lega, aku juga tidak mengharapkan balasan atas rasa ini, ingat aqu di hatimu selamanya saja sudah lebih dari cukup....
Dear Best Friend
Maaf ya Yan, selama ini aku menyembunyikan pengambilan beasiswa ini, karena aku gak yakin bakal ngedapetinnya. Tapi ternyata aku berhasil. Aku ingin sekali berbagi kebahagiaan ini padamu, tapi aku takut berbagi denganmu akan membuatku lemah, aku takut tidak sanggup pergi jika harus melihat senyummu. Aku gak tau Yan, sejak kapan dirimu begitu spesial melebihi seorang sahabat dihatiku, aku tidak bisa menjaga hati untuuk tidak mencintaimu. Dirimu terlalu spesial sampai hati ini tidak pernah membiarkanku menyukai yang lain. Bagaimana aku tidak galau jika orang yang ku sayang tersakiti, bagaimana aku tidak resah jika orang yang ku cintai mencintai yang lain. Aku ingin membawa perasaan ini pergi bersamaku tanpa memberitahumu, tapi rasanya itu bukan yang terbaik, menyembunyikannya akan membuatku semakin terluka. Dan sekarang aku lega, aku juga tidak mengharapkan balasan atas rasa ini, ingat aqu di hatimu selamanya saja sudah lebih dari cukup....
Tari
Tubuh Rian terhempas ke lantai, menyesali dirinya yang begitu bodoh, selama ini ia begitu sering dikecewakan oleh wanita, dan terus mencari, tanpa pernah menyadari dia yang dicari telah berada didekatnya. Begitu pandai Tari menyembunyikan segalanya darinya, betapa kuatnya ia memendam rasa itu selama ini. Ingin sekali rasanya ia bertemu Tari dan mengucapkan beribu maaf atas dirinya yang tidak pernah peka atas perhatian yang diberikan Tari padanya. Rianpun menyadari betapa kehilangannya dia akan sosok sahabat terbaiknya tersebut. Ingin sekali ia bertemu Tari lalu memeluknya dan mengatakan diapun begitu menyayanginya. Rian mengambil HP nya dan mengetik sms untuk Tari.
“Maafkan aku yang terlambat menyadari segalanya, aku terlalu memikirkan indahnya persahabatan sampai mengabaikan dirimu seorang wanita yang begitu rapuh akan perasaan, aku juga menyayangimu Tari, kejarlah cita-citamu, jika kau memintaku untuk mengingatmu selamanya, maka aku akan berjanji tuk menunggumu kembali”.
Tubuh Rian terhempas ke lantai, menyesali dirinya yang begitu bodoh, selama ini ia begitu sering dikecewakan oleh wanita, dan terus mencari, tanpa pernah menyadari dia yang dicari telah berada didekatnya. Begitu pandai Tari menyembunyikan segalanya darinya, betapa kuatnya ia memendam rasa itu selama ini. Ingin sekali rasanya ia bertemu Tari dan mengucapkan beribu maaf atas dirinya yang tidak pernah peka atas perhatian yang diberikan Tari padanya. Rianpun menyadari betapa kehilangannya dia akan sosok sahabat terbaiknya tersebut. Ingin sekali ia bertemu Tari lalu memeluknya dan mengatakan diapun begitu menyayanginya. Rian mengambil HP nya dan mengetik sms untuk Tari.
“Maafkan aku yang terlambat menyadari segalanya, aku terlalu memikirkan indahnya persahabatan sampai mengabaikan dirimu seorang wanita yang begitu rapuh akan perasaan, aku juga menyayangimu Tari, kejarlah cita-citamu, jika kau memintaku untuk mengingatmu selamanya, maka aku akan berjanji tuk menunggumu kembali”.
Senin, 14 Mei 2012
Pergi
Kisah ini ku tulis karena terinspirasi dari rasa rindu pada almarhumah nenekku, almarhumah pergi dan tidak akan kembali lagi. Beliau merupakan ibu kedua bagiku, menyayangiku seperti anak bukan cucu.
Namun sayangnya aku tidak bisa berada di sampingnya saat Allah memanggilnya, Allah hanya memberiku kesempatan memeluk dan merawat ia sakit 3 minggu sebelum beliau pergi, dan hanya diberi kesempatan mengecup pipinya sekali sebelum ia terbaring diperistirahatan abadinya.
Kini beliau telah tenang di sisi-Nya.
Dan kelak dengan izin dari-Nya, Insya Allah kami akan berkumpul kembali di surga.
Amin..
Cerpen pertamaku : Pergi
Namun sayangnya aku tidak bisa berada di sampingnya saat Allah memanggilnya, Allah hanya memberiku kesempatan memeluk dan merawat ia sakit 3 minggu sebelum beliau pergi, dan hanya diberi kesempatan mengecup pipinya sekali sebelum ia terbaring diperistirahatan abadinya.
Kini beliau telah tenang di sisi-Nya.
Dan kelak dengan izin dari-Nya, Insya Allah kami akan berkumpul kembali di surga.
Amin..
Cerpen pertamaku : Pergi
Kepalaku
terasa masih sakit, padahal aku sudah cukup lama tertidur, tapi terasa begitu
cepat azan subuh itu berkumandang, aku memaksakan diri untuk bangun dan segera
kekamar mandi untuk berwudhu’ lalu melaksanakan kewajiban shalat subuh itu,
dalam do’a ku berharap segala yang terbaik diberikan sang pencipta padaku,
karena akhir-akhir ini aku merasakan firasat yang tidak enak, aku berharap
tidak terjadi sesuatu yang buruk dikehidupanku.
Menjelang
pagi ku lewati dengan mendengarkan siaran radio yang saat itu sedang memutar
kaset mengaji yang cukup menenangkan fikiranku, didalam kamar kost itu aku
terbaring melihat ke langit-langit kamar, tubuhku terasa lemas, sepertinya aku
akan demam, obat sakit kepala yang ku minum sebelum tidur tadi malam ternyata tidak
cukup mujarap menghilangkan nyerinya. Tiba-tiba aku teringat keluargaku
dikampung halaman yang letaknya 4 jam dari kota tempatku menuntut ilmu disalah
satu perguruan tinggi dikota tersebut. Aku begitu merindukan keluargaku yang
sudah dua bulan tidak bertemu, ingin sekali rasanya jika sedang sakit seperti
ini aku berada didekat bunda.
Seakan
memiliki kontak batin yang kuat antara seorang ibu dan anak, saat itu juga HP
ku berdering yang ternyata adalah telpon dari bundaku. Aku heran karena tidak
biasanya bunda menelpon ku sepagi ini, aku melihat jam masih menunjukkan pukul
enam pagi. Aku langsung saja menjawab telpon tersebut dan seakan tubuh ini
semakin melemah setelah menjawab telpon dan mendengarkan kabar yang begitu
tidak ku sangka, tubuhku bergetar, tanpa sadar aku tidak menjawab sepatah
katapun apa yang dikatakan bundaku, malah aku langsung memutus telpon tersebut.
Aku masih tidak percaya dengan kabar tersebut, namun sungai kecil itu mulai
mengalir dpipiku, isak tangisku mulai mengisi ruang kamar itu, aku berusaha
mencubit pipiku berharap ini hanya sebuah mimpi, namun rasanya begitu sakit,
aku kembali meraung dalam tangis ternyata ini adalah kenyataan.
Aku
segera mandi kemudian bergegas bersiap-siap menuju terminal bus untuk segera
memesan tiket agar bisa secepatnya tiba dikampung halaman. Hanya butuh beberapa
menit menunggu bus yang kutumpangi pun berangkat. Diperjalanan aku tak henti
mencoba menahan diri agar air mata itu tidak jatuh ditengah-tengah para
penumpang lain yang tidak ku kenal. Aku mulai menyadari ternyata ini semua
jawaban dari segala firasatku yang tidak enak selama ini, sejalan dengan bus
yang terus melaju, aku terhanyut dalam lamunan dan kesedihanku.
Aku
tiba diterminal kampung halamanku dan segera seorang tukang becak
mengantarkanku kerumah. Sesampainya dirumah aku diliputi perasaan heran luar
biasa, didepan rumah aku disambut oleh nenekku yang tersenyum manis menunggu
kepulanganku, akupun langsung saja memeluknya yang membuatnya juga heran dengan
sikapku. Ibu pun keluar dari rumah dan kemudian aku menyalami tangannya. Ingin
sekali rasanya aku menyampaikan segala hal yang ada dibenakku ini, namun
tiba-tiba saja ibu mengajakku masuk kedalam rumah. Sejuta tanda tanya melayang
saat aku melangkah masuk kedalam rumah, aku kembali melihat nenek yang sedari
kecilku memang tinggal bersama kami, aku melihatnya dengan tanpa ada keanehan
sama sekali padanya, malahan aku melihat wajahnya yang kian berseri saat
tersenyum padaku.
Aku
mendatangi nenek kekamarnya, saat itu ku lihat nenek sedang mempersiapkan tas
baju dan memasukkan beberapa baju kedalamnya, aku semakin heran dengan apa yang
ku lihat, kenapa disaat aku baru tiba dirumah nenek malah hendak pergi,
lagipula tidak biasanya nenek pergi dengan membawa baju sebanyak itu. Aku pun
menanyakannya pada nenek, dan nenek hanya menjawab sederhana sambil tersenyum,
nenek bilang dia hendak pergi dan begitu senang bisa pergi karena aku telah
pulang dan melihat kepergiannya, jawaban yang begitu membuatku tidak mengerti.
Kemana
nenek akan pergi, siapa yang menemaninya, dan berapa lama dia akan pergi
sedikitpun tidak ia beritahukan padaku. Aku pun keluar dari kamar tersebut
bermaksud menanyakannya dengan ibuku, namun aku malah semakin terkejut
tiba-tiba saja anak-anak dan cucu-cucu nenek yang lain telah berkumpul dirumahku.
Aku hanya diam mematung tidak mengerti dengan situasi yang aku alami saat itu
Nenek kemudian memeluk kami satu persatu dan mengatakan
dia begitu senang disaat dia hendak pergi anak dan cucunya bisa melihat
kepergiannya, aku tidak bisa memahami kata-kata nenek tersebut seakan nenek
hendak pergi dan tidak akan kembali. Namun aku sendiri pun saat itu tidak bisa
berbuat apa-apa, ingin sekali aku menghalangi kepergiannya, namun aku seakan
tidak bisa berbuat apa-apa kecuali bersedih dan sesaat itu juga aku dan anak
cucu nenek yang lain sontak menangis melihat nenek mulai melangkah keluar dari
rumah dan terus saja berjalan menjauh hingga tidak lagi terlihat olehku.
Aku melihat mereka semua menangis dan akupun sama seperti
mereka tidak bisa menyembunyikan kesedihanku, tiba-tiba bahuku dipukul oleh
seseorang, perlahan dan lama-kelamaan semakin keras dan akupun terjaga dari
tidurku dan mendapati diriku hanya tinggal sendirian didalam bus tersebut, aku
begitu terkejut melihat sekelilingku sudah sepi tidak ada penumpang, aku
merapikan kerudung yang kukenakan yang mulai agak kusut dan baru menyadari
ternyata aku baru saja bermimpi, aku kembali teringat ternyata aku tertidur
cukup lama dalam perjalanan pulang kekampung halaman karena menerima kabar tadi
subuh dari bundaku bahwa nenekku meninggal dunia. Aku tidak menyangka dalam
perjalanan tersebut aku akan tertidur dan bermimpi bertemu dengan nenekku,
ternyata nenekku menyambut kepulanganku dan mengucapkan salam perpisahannya
padaku lewat mimpi, aku kembali merasa begitu sedih.
Aku tiba dirumah duka yang telah dipenuhi oleh para
pelayat, aku melihat semua anak dan cucu nenek yang berkumpul menangis
mengerumuni sesosok jasat yang tidak lagi bernyawa itu, dengan langkah gontai
aku menghapiri mereka dan jatuh dalam pelukan bundaku, bundaku mengusap kepalaku
dan memintaku agar mengikhlaskan kepergian nenek yang begitu mendadak itu. Aku
hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa, mereka pun mempersilahkan ku
mencium nenek untuk terakhir kalinya sebelum akan diselenggarakan fardhu
kifayah yang berikutnya.
Rasanya
sulit bagiku menerima kenyataan nenek pergi untuk selamanya, masih teringat
olehku saat terakhir aku hendak pergi meninggalkan rumah dimana aku masih
menciumnya dalam keadaan sehat wal’afiat, aku juga masih teringat dengan
nasehat-nasehat terakhirnya. Namun kini dia terbaring tak berdaya, meskipun
begitu aku tetap mengikhlaskannya karena semuanya adalah kehendak yang Maha
Kuasa dan yakin bahwa nenek kini telah tenang di sisih-Nya.
Rabu, 09 Mei 2012
Akankah luka itu hadir kembali?
Waktu memang penghipnotis terbaik, kita tidak pernah sadar
saat perputarannya yang begitu cepat memindahkan kita dari hari kehari. Tanpa
ku sadari 12 bulan telah berlalu semenjak luka itu tergores, beda halnya dengan
rasa sakitnya yang msh jelas terasa didada. Seperti merangkak, begitu susahnya
meninggalkan tragedi itu agar tidak ku ingat lagi. Seakan meneguk air dipadang
pasir, saat aku menerima uluran tangannya yang memberiku sedikit tenaga untuk
bisa berjalan dan pergi meninggalkan luka itu, hingga akhirnya kami berlari,
tersesat disebuah fatamorgana yang begitu indahnya..
Gelisah ternyata cemburu
dengan kebahagiaanku, aku terhasut oleh pemikiran akan terulangnya lagi
kekecewaan dimasa depan, Kebingungan pun tak kalah hebat meracuni otak ku, dia
paksa aku berjalan, mencari kebahagiaan sejati, tapi dimana harus ku temukan?
Aku tak tau arah, aku takut kembali keluka lama, atau akankah terperangkap dijalan menuju luka berikutnya?
Aku tak tau arah, aku takut kembali keluka lama, atau akankah terperangkap dijalan menuju luka berikutnya?
Selasa, 08 Mei 2012
Diam
Satu kata yang begitu sederhana
Baik untuk diucapkan maupun dilakukan
Kegiatan tanpa suara namun kaya akan makna.
Dengan diam, mungkin saja seseorang sedang marah,
dengan diam, terkadang cara seseorang mengungkapkan rasa setuju,
tidak sedikit pula rasa cinta yang tidak terungkapkan itu hanya bisa di diamkan saja..
Begitu banyak bukan hal-hal yang bisa terwakilkan dengan diam,.
Begitu berharganya suara ini jika hanya dipergunakan untuk hal yang tidak bermanfaat, terkadang tanpa disadari, suara indah ini telah menyakiti hati seseorang..
Begitu banyak caci maki, fitnah, dan problem-problem yang timbul hanya karena lisan yang tidak terjaga..
Bibir ini memang diciptakan untuk berbicara, namun terkadang kita lalai, menggunakannya tidak pada waktunya...
Sebaliknya saat apa yang telah mereka ucapkan diminta pertanggung jawabannya, apa yang bisa mereka perbuat?
mereka diam seribu bahasa, kemana suara-suara yang tadinya hingar-bingar?
mereka menggunakan diam untuk bersembunyi dari kessalahan
Segala sesuatu itu akan bermanfaat jika tepat pelaksanaanya
Begitu juga dengan diam dan berbicara
lakukan pada saat yang tepat
Jangan jadikan diam sebagai alibi untuk menutupi lisan yang tak terjaga
Jangan pula biarkan lisan itu mengeluarkan perkataan yang berakibat murka
So...fikir-fikir dulu sebelum bertindak
mari kita minimalis ucapan-ucapan yang tidak berharga
ingat kawan,,suara kita begitu berharga..
^_^
Baik untuk diucapkan maupun dilakukan
Kegiatan tanpa suara namun kaya akan makna.
Dengan diam, mungkin saja seseorang sedang marah,
dengan diam, terkadang cara seseorang mengungkapkan rasa setuju,
tidak sedikit pula rasa cinta yang tidak terungkapkan itu hanya bisa di diamkan saja..
Begitu banyak bukan hal-hal yang bisa terwakilkan dengan diam,.
Begitu berharganya suara ini jika hanya dipergunakan untuk hal yang tidak bermanfaat, terkadang tanpa disadari, suara indah ini telah menyakiti hati seseorang..
Begitu banyak caci maki, fitnah, dan problem-problem yang timbul hanya karena lisan yang tidak terjaga..
Bibir ini memang diciptakan untuk berbicara, namun terkadang kita lalai, menggunakannya tidak pada waktunya...
Sebaliknya saat apa yang telah mereka ucapkan diminta pertanggung jawabannya, apa yang bisa mereka perbuat?
mereka diam seribu bahasa, kemana suara-suara yang tadinya hingar-bingar?
mereka menggunakan diam untuk bersembunyi dari kessalahan
Segala sesuatu itu akan bermanfaat jika tepat pelaksanaanya
Begitu juga dengan diam dan berbicara
lakukan pada saat yang tepat
Jangan jadikan diam sebagai alibi untuk menutupi lisan yang tak terjaga
Jangan pula biarkan lisan itu mengeluarkan perkataan yang berakibat murka
So...fikir-fikir dulu sebelum bertindak
mari kita minimalis ucapan-ucapan yang tidak berharga
ingat kawan,,suara kita begitu berharga..
^_^
Rabu, 25 April 2012
Nama : Hardila Putri
TTL : Batu Bara 16 Oktober 1991
Alamat : Jln. Ampera VIII No. 16
Riwayat Pendidikan :
SD : SDN 010166 Tamat : 2003
SMP : SMPN 1 Tg. Tiram Tamat :2006
SMA : SMAN 1 Tg. Tiram Tamat : 2009
Universitas : UMSU
Fakultas : FKIP
Jurusan : Pendidikan Matematika
Hal yang Dibenci : Menunggu dan Kebohongan
Hal yang Disukai : Senyuman (Hal sederhana namun berpahala dan begitu indah)
Always smile to everyone
Motto : Jadi yang terbaik untuk Ayah dan Bunda
^_^
TTL : Batu Bara 16 Oktober 1991
Alamat : Jln. Ampera VIII No. 16
Riwayat Pendidikan :
SD : SDN 010166 Tamat : 2003
SMP : SMPN 1 Tg. Tiram Tamat :2006
SMA : SMAN 1 Tg. Tiram Tamat : 2009
Universitas : UMSU
Fakultas : FKIP
Jurusan : Pendidikan Matematika
Hal yang Dibenci : Menunggu dan Kebohongan
Hal yang Disukai : Senyuman (Hal sederhana namun berpahala dan begitu indah)
Always smile to everyone
Motto : Jadi yang terbaik untuk Ayah dan Bunda
^_^
Langganan:
Postingan (Atom)