Jumat, 31 Agustus 2012

Goresan Pena Terakhir


Di suatu hari Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang ke rumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itu pun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluar pun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, di suatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit di rumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan di rumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat 2,5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

“Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah.

Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatiku pun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

” Mario, suamiku….

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya.

Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?”

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu,
Rima”

Di surat yang lain,

“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,

“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang ke rumah.

Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…

“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya di seberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar,

Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”. Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario……

Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita
+++++++++++

Selasa, 05 Juni 2012

My Friend is My love


                “Akhirnya selesai juga ya Mi ujian kita, lega rasanya” Hafis menepuk pundakku dari belakang saat aku menuruni anak tangga. “Iya fis, lega rasanya, pengen cepat-cepat pulkam” sahutku. “Emang kamu pulang kapan Mi?” tanya Hafis. “Rencananya nanti sore langsung pulang, aku duluan ya, soalnya temenku udah nunggu dikost” aku pun berlalu meninggalkan hafis dengan perasaan sedih mengingat untuk beberapa saat tidak bertemu lagi dengannya.
Libur pun tlah dimulai, hati ini gembira untuk sejenak terlepas dari beban perkuliahan. Namu saat kaki ini hendak melangkah meninggalkan kota itu, hati kecilku sedikit bersedih karena untuk beberapa saat pula tidak bisa melihat sosoknya. Mungkin dia tidak pernah tau bahwa aku selalu merindu jika sehari saja tidak melihat wajah dan senyumannya. Tapi mungkin baginya aku hanyalah sahabat biasa meskipun batinku kerap bertanya akan maksud dari perhatian yang dia berikan padaku selama setahun ini.
Sejak hubunganku berakhir setahun yang lalu dengan pacarku, hafis menjadi begitu akrab denganku, meskipun aku menilai itu tidak lebih dari fatner kampus, dan kami pun hanya menjalin komunikasi sebatas permasalahan kuliah saja. Namun entah kenapa, aku menjadi begiitu suka melihatnya dari kejauhan. Dia pribadi yang hangat dimataku, supel bergaul dengan siapa saja. Itu juga yang mengakibatkanku berfikir bahwa perhatian yang dia berikan padaku hanya sebatas sahabat biasa.
                “Mi, HP mu bunyi tuh dikamar, sepertinya ada yang menelpon” ibu memanggilku karena mendengar HP yang sedang ku carge dikamar berbunyi, aku yang sedang asyik menonton acara tv langsung kekamar melihat siapa yang menelpon.  “Halo, Assalamu’alaikum, ada apa fis?” aku langsung menjawab telpon tersebut dengan hati bahagia, tidak ku sangka malam itu hafis menelpon, seakan dia bisa membaca isi hatiku yang sangat merindukannya, baru 3 hari tidak melihatnya, namun sudah membuat dadaku sesak ingin secepatnya bertemu. “Hmmm, gak pa2 koq Mi, pengen nelpon kamu aja, aku gak ganggu kan?” jawab hafis dari seberang sana. Kami pun asyik ngobrol sampai akhirnya telpon itu terputus karena HP ku lowbet lagi. Tak terlukiskan senangnya hatiku malam itu, ingin sekali rasanya libur itu cepat berlalu agar aqu bisa bertemu lagi dengannya.
                Begitu seterusnya, hampir 4 kali Hafis menelpon ku selama liburan 2 minggu itu, disamping sms yang cukup intens antara kami. Terkadang aku merasa bodoh membiarkan hatiku hanyut kepada perasaan yang tidak seharusnya diberikan kepada sahabat, tapi apa yang bisa ku lakukan saat rasa sayang itu benar-benar tercipta untuknya.
                Perkuliahan pun dimulai, begitu semangatnya aku hendak secepatnya tiba dikampus. Aku memasuki ruang kelas, bergabung dengan teman-temanku yang lain. Mataku berkeliling mencarinya, namun ternyata hari itu dia terlambat. Aku begitu memperhatikan setiap langkahnya memasuki kelas, dan berharap dia tau, ada seorang wanita diruangan itu yang begitu bahagia dapat melihatnya hari itu. Selesai perkuliahan Hafis menghampiriku, seperti biasa apabila aku pulkam, dia pasti menagih oleh-oleh dariku. Akupun membawakan beberapa cemilan dan yang pastinya segudang rindu untuknya. “Mi entar malam aku maen kekostmu ya, kangen juga aku sama kamu”, “hmmm, kayak aku gak tau aja kalo kamu Cuma mau mintak oleh-oleh”.
                Malam itu hafis datang kekostku selepas sholat Isya, kami duduk-duduk diteras sambil ngobrol dan memakan cemilan. Dia banyak bercerita pengalamannya selama liburan, begitu juga denganku. Hafis memang tipe orang yang banyak bicara, ada saja yang selalu bisa ia ceritakan bahkan terkadang membuatku begitu geli. Sampai akhirnya dia mengutarakan maksud kedatangannya malam itu, “Mi, malam besok ada konser, kita nonton yuk, band nya bagus2 lho” Hafis mencoba meyakinkanku untuk mau menerima ajakannya”. “Boleh, tapi tumben kamu ngajak  aku?” aku mencoba mencari tahu alasan dia mengajakku, karena ini baru pertama kali dia mengajakku pergi, meskipun itu tidak bisa membuktikan apa-apa, hal yang biasa juga dilakukan seorang sahabat mengajak pergi nonton sebuah koser. “Hitung-hitung refresh otak sebelum mulai belajar, trus ngobatin kangen sama kamu” katanya sambil menjewer telingaku. Dia berhasil membuat bibirku manyun karena jewerannya, meskipun kata-kata terakhirnya itu membuat hatiku senang. Kami pun sepakat pergi esok malam untuk menonton konser tersebut.
                Keesokan harinya stelah sholat Isya Hafis menjeput ku, aku sengaja berdandan sesimple mungkin karena aku tipe orang yang menyukai kesederhanaan. Hafis memperhatikanku dengan seksama, membuatku aku sedikit merasa gerogi. “Cantik juga kamu ya Mi?” dia mencoba merayuku yang hanya mengakibatkan kadar gerogi semakin meningkat. “Baru nyadar, kayaknya seluruh dunia udah tau kalau aku memang cantik, mata kamu aja yang berkelainan” Jawab ku sepede mungkin mencoba menenangkan diri. Kami pun segera meluncur ketempat tujuan, untuk beberapa saat diperjalanan kami habiskan dengan canda gurau, membuatku lupa akan nervous yang kurasakan.
                Sepanjang konser malm itu tanganku tidak pernah lepas dari genggaman tangannya, aku tau, itu caranya memberikan perlindungan padaku karena padatnya penonton konser, dismping itu tidak jarang pula terjadi aksi dorong-dorongan. Sebenarnya aku  cukup takut malam itu, melihat disatu sisi ada aksi lempar-lemparan, namun entah kenapa aku yakin aku akan tetap aman selama masih ada dia disisihku. Tanpa terasa konser itu pun usai, dan waktu pun sudah hampir jam sebelas malam, aku  harus secepatnya pulang karena sudah hampir melewati batas izin keluar yang diberikan ibu kostku. Beda halnya pada saat pergi tadi, hanya keheningan yang mewarnai perjalanan pulang malam itu. Aku tidak tau apa yang ada dalam benaknya, apakah sama dengan yang aku rasakan saat itu yaitu bahagia.
                Akhirnya kami sampai juga dikostku, aku pun harus segera masuk takut nanti dimarahi ibu kost, “Makasi ya fis buat malam ini”, “Iya sama-sama, aku langsung pulang aja ya, g enak ni udah kemalaman”. Aku masih berdiri melihatnya pergi dan akhirnya lenyap dari pandanganku, aku masih mencoba membayangkan indahnya hal-hal yang baru saja ku lewati beberapa waktu lalu.
                Untuk pertama kalinya malam itu aku susah tidur, sepertinya setelah kejadian tadi aku benar-benar merasakan aku jatuh cinta padanya, namun lagi-lagi dilema itu meracuni fikiranku, apakah dia merasakan yang sama? Apakah yang ku anggap indah juga indah baginya?. Ingin sekali rasanya aku memasuki  fikirannya untuk mengetahui apa yang dia fikirkan. Intinya kegalauan tidak pernah rela pergi jauh dariku.
                Keesokan harinya saat menuju kelas untuk pertama kalinya aku tidak ingin melihat nya, jantungku tidak karuan menyadari diri yang sudah berada didaerah sekitarnya meskipun mata ini belum melihatnya. Tidak berapa lama setelah aku tiba dikelas, hafis masuk kekelas. Ku lihat dia berjalan hendak menghampiriku, dan entah mengapa kaki ku refleks beranjak dari tempat itu dan mencoba berjalan menghindar darinya. Aku melihat reaksi wajahnya yang begitu heran, hafis mencoba memanggilku, namun aku pura-pura tidak mendengar dengan asik ngobrol dengan temanku yang lain. Aku juga tidak mengerti mengapa aku bertingkah seperti itu, mungkin aku masih merasa grogi akan kejadian malam itu, baginya itu biasa saja namun tidak untukku.
                Jam perkuliahan pun berakhir, aku bergegas langsung pulang kekostku yang jaraknya tidak jauh dari kampus. Hari itu ku lalui seakan berada dalam penjara yang mengekang setiap gerakku. Aku mengutuki diri atas sikapku yang tidak profesional itu. Sesampai dikost tiba-tiba HP ku berderig ternyata panggilan dari Hafis, aku tidak menjawabnya, akhirnya dia mengirim sms untukku. “Mi km knp hari ni, sprtinya mnghndar gt dr aku?”, aku merebahkan diri dikasur sembari memikirkan jawaban apa yang pas untuk pertanyaan tersebut. “Aku gk knp2 koq fis, biasa ja” bls qu singkat. “Tadi aqu panggil kamu koq diem aja” blsnya lagi. “Emg km ada manggil ya, gak denger fis, sory, km tenang aja, aku gak kenpa2 koq” aqu mencoba meyakinkannya bahwa tidak ada satu permasalahanpun terjadi, karena aku sendiri pun tidak tahu kenapa bisa bertingkah seperti itu. “owh yaudah, aqu takut aja kamu marah sama aku, aku jadi ngerasa gak enak”. Aku tidak membalas lagi sms tersebut, aku tidak ingin membohonginya lagi terlalu jauh.
                Senja pun tiba, membaca Al-Qur’an setelah sholat maghrib merupakan rutinitas yang selalu ku jaga setiap hari, itu sala satu caraku agar tetap merasakan kedamaian dihati. Meskipun kurang begitu berlaku untuk hari itu, entah mengapa penat merajalela dibenakku, dadaku terasa sesak, hatiku gelisah gak karuan. Aku selalu bermohon pada-Nya agar menghilangkan segala rasaku untuknya jika memang akhirnya akan tercipta luka baru, namun doaku berbanding terbalik dengan apa yang ku rasa, rasa sayangku semakin bertambah untuknya. Aku kesal dengan diri sendiri yang tidak komitmen pada persahabatan.
                “Mi ada temanmu tuh diluar nyariin” kata yana teman sekamarku. “Siapa yan?” tanyaku heran. “Kayaknya si Hafis lha Mi”, aku terkejut mendengarnya, kenapa tiba-tiba dia datang kekostku, apalagi tanpa memberitahu terlebih dahulu, aku langsung saja menghampirinya. “Kok datang gak kasi tau dulu fis?” tanyaku padanya. “Ntar klo kasi tau, takutnya gak dibolehin datang, soalnya hari ini kamu agak aneh”. Aku tertawa mendengar penjelasannya, memang sedikit benar, aku pun merasakan diriku agak aneh belakangan ini. Kami asik ngobrol, ternyata dia memang merasa aneh dengan sikapku tadi, dan mencoba mencari tau apa yang terjadi. Namun tidak banyak yang bisa ku katakan selain “tidak apa2”.
                “Kita jalan-jalan yuk Mi?” tiba-tiba Hafis mengajakku. “Mau kemana fis?” tanyaku lagi, tidak biasanya dia seperti itu. “Kemana aja, keliling-keliling, cari udara segar”. “Owh yaudah, tunggu bentar ya, aku ganti baju dulu” jawabku kemudian menuju kekamar mencari-cari pakain yang kira-kira cocok untuk kekenakan. Seperti biasa, simple tapi elegan merupakan ciri khasku.
                Kami pun berkeliling-keliling gak tau tujuan, berbeda seperti biasanya, suasana begitu dingin, tidak ada komunikasi diantara kami. Saat melewati suatu taman, dia menghentikan kendaraan disitu. Aku mencoba membaca situasi, kenapa mesti ketaman, kalo untuk sekedar ngobrol, sepertinya bisa dilakukan dikostku saja. Kami pun duduk, sama seperti tadi, suasana masih dingin. Lidahku pun kelu tidak tau harus membicarakan apa. “Kemaren kamu cerita mau pindah kost, jadi?” Hafis membuka pembicaraan, meskipun aku tau itu hanya basa basi karena tidak tau mau membahas problem apa, memang seh aku pernah cerita mau pindah kost, tapi rasanya tempat itu terlalu spesial untuk membahas hal sepele seperti itu.
“Hmmm,,jadi gak ya??” ku jawab sekedarnya
“Jadi gak? Tanya nya lagi.
“aku masih bingung fis” jawabku.
“Jadian Yuk” tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan yang membuatku shock. Situasi kembali dingin, dia menatapku dalam. “Apaan seh fis?” aku mencoba menenangkan diri meskipun jantungku tidak normal berdetak. Hafis menggengam tangkanku memalingkan wajahku yang sedari tadi menghindar dari pandangannya untuk menatapnya. Aku merasakan keseriusan dimatanya, berbeda dengan Hafis yang selama ini.
“Mi, ngerasa gak seh selama ini kamu aku perlakukan lebih dari teman biasa?” aku membaca kejujuran dimatanya saat kata-kata itu dia ucapkan. Namun belum sempat aku memberikan respon dia kembali melanjutkan kata-katanya, sepertinya begitu banyak yang dia ingin ungkapkan yang selama ini dia sembunyikan dan sudah tidak sanggup lagi untuk dipendam. “Gimana bisa aku tidur dengan tenang malam ini kalo harus ngeliat respon kamu yang kayak tadi dikampus” ujarnya lagi padaku, aku tidak menyangka hal itu membuatnya segelisah itu, “Ya Rabb, mungkinkah selama ini kami merasakan hal yang sama” teriakku dalam hati.
“Aku gak tau kenapa bisa gini, semenjak mengenalmu, aku suka dengan kepribadianmu, perlahan-lahan rasa kagumku berubah menjadi sayang.. bahkan begitu sayang, jadi rasanya begitu sakit jika harus diperlakukan seperti tadi”. Aku terhenyak mendengar pengakuannya, aku melihat sisi lain dari dirinya malam ini. Seketika bibirku terkunci  rapat, tidak tau harus berkata apa. Namu tangan itu masih terus menggenggam erat tanganku seakan tidak ingin melepasnya lagi.
Aku tersenyum padanya, ingin sekali rasanya mengatakan bahwa aku menyayanginya mungkin lebih dari rasa sayangnya padaku, namun itu tetap tidak bisa ku lakukan padanya.
“Mungkin kalo kamu enggak spesial dihatiku, aku gak akan bersikap seperti tadi dikampus. Rasanya seneng banget menhabiskan waktu malam itu denganmu sampai-sampai aku gak bisa mengontrol diri waktu tadi ngeliat kamu fis” Belum selesai aku bicara, hafis merangkulku.
“Udah gak usah dilanjut lagi, aku udah ngerti sekarang, aku sayang kamu Hayati Ilmi, bolehkan aku memilikimu seutuhnya?” Aku merebahkan kepalaku dibahunya, “Aku juga sayang kamu Hafis Siddiq”. Hafis memelukku dan medaratkan satu kecupan dikeningku. Tak terkira bahagianya hatiku malam ini, begitu juga yang ku tangkap dari wajahnya. Ternyata ini yang dimaksud-Nya selama ini, aku saja yang selalu tidak sabar, bahwa semua itu kan indah pada waktunya.

               

               

Senin, 04 Juni 2012

Broken Heart

Rasanya begitu penat menjalani kulyah seminggu ini, begitu banyak tugas yang harus dikerjakan. Ingin skali rasanya hari minggu ini menghabiskan waktuku bersama Raka pacarku, Hanya dia yang selalu bisa memotivasiku untuk terus bersemangat. Terkadang hanya denggan melihat senyumnya saja sudah bisa menghapus segala lelahku. Menjalani hubungan yang hampiir 4 tahun dengannya membuatnya begitu mengerti tentang aku. Terkadang aku berfikir mungkin dialah pangeran yang yang diciptkan-Nya untukku. Begitu banyak hal-hal indah yg telah kami lalui bersama dan semua memori itu terekam dan tidak mungkin terhapus dari ingatanku. Seperti biasa setelah mengirim sms untuk mengajaknya pergi jalan, beberapa menit kemudian dia tiba untuk menjeputku, hari itu begitu indah, tidak perlu hal-hal mewah atau tempat yang indah, bisa selalu bersamanya saja merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagiku. Tidak beda halnya dengan orang-orang pada umunya, hubungan kami juga tidak terlepas dari keposesifan, terkadang batasan-batasan yang dia buat untukku mengakibatkan aku juga terpaksa harus bersikap posesif padanya. Cemburu merupakan pertanda dia menyangi kita juga terkadang dijadikannya senjata untuk mengekangku, namun sejauh itu masih bisa ku jalani, aku lakukan dengan ikhlas asalkan hubungan itu tetap berjalan dengan baik. Seperti biasanya setelah lelah berkeliling, kami singgah disebuah kafe, memesan makanan dan kembali bercanda gurau, dia termasuk pria humoris yang selalu bisa buat aku tertawa. Hingga akhirnya HP ku menerima sebuah sms dari seorang teman lelaki yang tidak lain teman sekelasku dikampus. “Siapa Dil?” tanyanya padaku, aku menangkap respon penyelidikan darinya dan ku jawab pertanyaan itu dengan jujur, “Temen sekelasku” kemudian ku jelaskan padanya siapa dia dan aku perlihatkan padanya isi sms itu. Aku melihat tidak ada raut amarah diwajahnya, hingga akhirnya kami pun pulang. Setelah dia mengantarku, dia pun pamit hendak pulang, namun sebelum membiarkannya pulang, aku memastikan dia tidak menyimpan unek-unek dalam hatinya atas kejadian tadi, karena aku begitu mengenal wataknya yang sangat pencemburu. “Kamu gak marah kan sama aku karena sms tadi” tanyaku padanya. “Gak koq Dil, tenang aja, aku pulang dulu ya”. Dia pun pulang dan ternyata hari itu adalah hari terakhir kami jalan bersama. Ku fikir senyum terakhir yang ia berikan menandakan semuanya baik-baik saja, namun aku salah, bibir tersenyum itu menyembunyikan hati yang terbakar cemburu, aku tidak menyangka setelah dari rumahku dia mencari tau segala informasi tentang siapa tadi yang mengirim sms padaku, ternyata penjelasan yang kuberikan padanya tidak cukup meyakinkan dirinya bahwa aku jujur padanya. Dan aku tidak tahu darimana ia mendapatkan informasi tentang temanku itu sampai-sampai informasi itu menyebutkan temanku itu memiliki kedekatan spesial denganku. Keesokan harinya aku terkejut melihat Raka yang tanpa memberitahu terlebih dahulu tiba-tiba telah berada diteras rumahku. Aku merasa ada yang tidak beres hari itu, selain sms ku yang tidak dibalas sejak pagi hingga kedatangannya yang begitu mendadak. Namu aku tetap menyambutnya dengan ramah, “Kamu datang kok gak bilang2, untung aku langsung pulang”, belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Raka langsung menyela “Kenapa, ada rencana jalan2 dengan teman spesialmu itu ya Dil?” ucap Raka begitu ketusnya padaku. Aku begitu tidak menyangka dengan respon yang dia berikan, selama hampir 4 tahun aku menjalin hubungan dengannya, tidak sekalipun dia pernah mengucapkan kata-kata yang kasar padaku. “Kamu koq ngomong gitu, teman spesial apa?, kamu marah tentang sms semalam?” aku tetap berusaha meredam suasana, aku tidak ingin membalas api dengan api, meskipun hatiku begitu sakit mendengar tuduhan yang tidak pernah ku lakukan. “Udahlah Dil, gak usah sok baik lagi didepanku, kamu gak bisa dipercaya, kecewa aku sama kamu, gak nyangka aku kamu nyalah gunain kepercayaan yang aku kasi buat kamu” Raka mulai memperjelas amarahnya, tanpa perduli aku yang tidak pernah kuat mendengar orang lain berkata-kata kasaar didepanku. “Aku gak ngerti maksud kamu Ka, jangan fitnah aku sembarangan, kenapa seh gak bisa sedikit aja kamu tuh percaya kalo aku gak pernah berkhianat, bahkan untuk berteman dengan laki-laki lain aja ku sering menjaga jarak dengan mereka” aku coba untuk tetap menguatkan hati untuk menjelaskan padanya bahwa aku tidak salah. “Terserah kamu mau bilang apa, aku udah gak percaya lagi sama kamu, aku gak mau lagi ngejalanin hubungan dengan perempuan penipu” Raka pun beranjak dari tempat duduknya hendak pulang tanpa memperdulikan air mata itu hampir mengalir dipipiku. Aku mencoba mencegahnya dengan menarik lengannya kemudian menjellaskan padanya bahwa aku tidak bersalah “Please dengerin aku dulu, aku udah jujur sama kamu, kasi tau aku siapa yang udah fitnah aku kayak gini”. “Kamu gak perlu tau siapa orangnya, yang pastinya aku gak bisa percaya sama kamu lagi, kita Putus” Raka kemudian berlalu meninggalkanku yang berdiri mematung tak percaya dengan kata-kata yang baru kudengar. Begitu mudahnya ia mengucapkan kata-kata putus tanpa pernah memikirkan hancurnya perasaanku. Aku diputuskan atas kesalahan yang tidak pernah ku perbuat. Bagaimana bisa cintaku dibalas penindasan seperti ini. Aku yang selalu menjaga agar hubungan ini tetap berjalan baik ternyata akhirnya hanya bisa membiarkan air mata itu menetes begitu banyak. Andai dia tau yang sebenarnya bahwa aku selalu memujanya bahkan tidak pernah seorang pun singgah dihati ini sejak aku mengenalnya. Keegoisannya tumbuh tanpa ampun saat ia merasa terkhianati, tapi layakkah itu kuterima atas kesalahan yang tidak perna ku perbuat??

Rabu, 23 Mei 2012

Akulah Dia, Dia itu Kamu

Mari lebih peka membaca situasi, cintai yang layak dicintai, karena akan begitu indah jika memang cinta itu diberikan kepada dia yang berhak menerimanya...Namun terkadang kita lalai, mencari dia yang sebenarnya ada didekat kita. Kisah ini hanya fiktif, namun relaitanya banyak terjadi dimasyarakat. Semoga bisa jadi acuan untuk anda yang sedang mencari cinta sejati
^_^

"Akulah Dia, Dia itu Kamu"


“Tar”
“Tariiiiiii....”
“Kamu dari tadi aku panggil masak gak dengar seh?” tanya Rian.
“hmmmm..maaf yan, aku buru-buru, kamu pulang aja duluan, aku masih ada urusan di biro administrasi” sahut Tari.
“Owh, gitu ya..yaudah..nanti malam aku kerumahmu ya Tar, ada yang mau aku ceritain neh, aku butuh pendapatmu”
Tari akhirnya menghentikan langkahnya, “cerita apa, berantem lagi ama pacarmu..?” tanyanya pada Rian.
“Kamu kenapa seh Tar?, jutek amat, gak biasanya, kalo gak boleh yaudah”
“Maaf yan, aku banyak fikiran, jadinya agak sensi, yaudah kamu datang aja, sms aja nanti, OK”
“Siippp..gitu donk best friend ku”, Rian beranjak meninggalkan Tari yang masih berdiri terpaku.
            Tari menghela nafas, iya sudah tau apa yang akan diceritakan sahabatnya tersebut, yang tidak lain tentang pacarnya. Sejak mereka bersahabat, Rian selalu curhat masalah pribadinya ke Tari, dan Tari selalu dengan senang hati mendengarkannya. Namun berbeda halnya dengan setahun belakangan ini, Tari mulai merasa jengkel jika harus mendengar Rian menyebut nama wanita lain dihadapannya, apalagi Rian sampai menyukainya. Tari mencoba menepis perasaan spesial dihatinya terhadap Rian, namun ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri kalau dia benar-benar jatuh cinta pada sahabatnya tersebut.  Apalagi jika sahabatnya tersebut dikecewakan oleh wanita lain. Tapi sayangnya Rian tidak pernah menyadari hal itu. Dia selalu menganggap perhatian yang diberikan Tari padanya hanya sebatas persahabatan saja. Bukan berarti Rian tidak menyayangi Tari, namun Rian lebih  bisa berkomitmen dalam menjaga hatinya.
HP Tari berdering, ternyata sms dari Rian, “Tar aku datang ya”, Tari pun membalasnya, “yaudah, dtg aja”. Beberapa menit kemudian Rian pun tiba dan disambut hangat oleh Tari.
“Kamu mau cerita apa seh yan?”, Tari memulai pembicaraan. “Aku diputusin sama Indri tadi malam, gara-gara aku belakangan terlalu sibuk sama kulyah aku, aku mesti gimana Tar?’”
“Masak dia g bisa seh ngertiin kamu dikit, kita kan udah mau tamat, wajar donk agak sibuk” jawab Tari sewot. “Itu dia masalahnya Tar, dia gak bisa ngerti, padahal aku udah mulai serius ngejalanin hubungan kami”. Hati Tari teriris mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Rian. “Kalo memang gitu, kamu usaha aja lagi Yan, minta pengertian dia, kamu juga harus bisa ngertiin perasaan dia yang butuh diperhatiin” Tari tetap mencoba memberikan nasehat padahal hatinya tidak senada dengan apa yang dia ucapkan. “Iya dech Tar, nanti aku usahakan lagi, susah banget ya Tar dapetin pacar yang bisa nerima kita apa adanya”, Tari tehenyak, ingin sekali dia mengatakan “Aqu lah dia yang selama ini kamu cari, tapi sayang, kau tidak pernah menyadari itu.
                “Oia Tar, belakangan ini status fb mu galau terus, siapa seh laki-laki yang bisa buat seorang Tari galu?” Rian mulai mengganti topik pembicaraan. “Gak kok Yan, Cuma status iseng-iseng doang” Tari terpaksa membohongi Rian, karena tidak mungkin Tari mengatakan “kamu lah dia yang selama ini buat kekacauan dihatiku”. “Gak enak, udah mulai gak terbuka sama aku”, Rian kesal merasa sekarang banyak perubahan pada Tari, terlebih banyak hal yang ditutupi Tari dari Rian. Tapi Rian tidak pernah memaksa sahabatnya tersebut untuk berbagi hal yang memang sulit untuk diceritakan ke orang lain. Rian tau, Tari adalah sosok wanita yang tegar dan tau apa yang harus dia perbuat. Jauh didalam hatinya, dia begitu mengagumi sahabatnya tersebut, terkadang ia berfikir kenapa harus mencari yang lain, didepan matanya ada seorang wanita yang baginya begitu sempurna, namun rasa takut mengecewakan sahabatnya tersebut yang akhirnya dapat merusak persahabatan mereka membuat Rian mengurungkan niat itu.
                Pagi itu begitu cerah, sebagai mahasiswa yang sudah hampir tamat, begitu banyak urusan yang harus diselesaikan. Rian berniat menuju Ruang dekan fakultas, dan melewati mading kampus, namun pagi itu, mading begitu ramai dikerumuni orang, Rian pun tertarik melihat, ia mendatangi mading dan mencari tahu pengumuman apa yang sedang dilihat oleh orang-orang. Akhirnya Rian mengetahui bahwa itu adalah pengumuan Mahasiswa/i yang mendapatkan beasiswa mengambil S2 diluar negeri. Namun yang membuat Rian begitu terkejut ialah ada nama Tari pada salah satu mahasiswi yang mendapat beasiswa. Selama ini Tari tidak pernah menceritakan masalah beasiswa tersebut padanya. Selama 2 hari ini, Setelah kerumahnya 2 hari yang lalu, Rian tiidak pernah lagi bertemu Tari, Tari jarang membalas sms-smsnya, dia hanya mengatakan dia banyak urusan. Rian mencoba mencari Tari dikelasnya, namun tidak juga menemukannya. Kata teman-temannya, dua hari ini Tari tidak kekampus. Sepulang dari kampus Rian pun berniat mampir kerumah Tari, Ia begitu rindu pada sahabatnya tersebut, sekalian Rian ingin mengucapkan selamat atas beasiswa yang diterima Tari, meskipun Rian tau, dia bakalan sulit untuk bertemu lagi dengan Tari jika memang Tari mengambi beasiswa ke luar negri tersebut.
Sesampainya dirumah Tari, ibu Tari menyambut Rian dan mengatakan bahwa Tari sudah pergi ke Malaysia sejak 2 hari yang lau, mengurus beasiswa yang ia terima dari kampus. Kemungkinan Tari akan terus menetap disana, dan ijazahnya akan dikirimkan saja, karena begitu repot jika dia harus bolak-balik. Rian tertegun mendengar penjelasan ibu Tari, ada perasaan senang, dan sedih yang luar biasa dalam hatinya, ia tiba-tiba merasa begitu kehilangan, kehilangan sahabat yang begitu ia sayang, sahabat yang selama ini begitu mengerti akan dirinya. Rian juga merasa kecewa Tari merahasiakan segalanya darinya, Termasuk pergi begitu saja tanpa pamit padanya. Tari memang pergi untuk kembali, tapi itu entah kapan. Segala hal yang kini berkecamuk difikiran Rian terbuyarkan, Ibu Tari tiba-tiba memberikan Rian sebuah surat yang ditinggalkan Tari untuknya.

Dear Best Friend

            Maaf ya Yan, selama ini aku menyembunyikan pengambilan beasiswa ini, karena aku gak yakin bakal ngedapetinnya. Tapi ternyata aku berhasil. Aku ingin sekali berbagi kebahagiaan ini padamu, tapi aku takut berbagi denganmu akan membuatku lemah, aku takut tidak sanggup pergi jika harus melihat senyummu. Aku gak tau Yan, sejak kapan dirimu begitu spesial melebihi seorang sahabat dihatiku, aku tidak bisa menjaga hati untuuk tidak mencintaimu. Dirimu terlalu spesial sampai hati ini tidak pernah membiarkanku menyukai yang lain. Bagaimana  aku tidak galau jika orang yang ku sayang tersakiti, bagaimana aku tidak resah jika orang yang ku cintai mencintai yang lain. Aku ingin membawa perasaan ini pergi bersamaku tanpa memberitahumu, tapi rasanya itu bukan yang terbaik, menyembunyikannya akan membuatku semakin terluka. Dan sekarang aku lega, aku juga tidak mengharapkan balasan atas rasa ini, ingat aqu di hatimu selamanya saja sudah lebih dari cukup....                                                                                            
                                                                                                             Tari

                Tubuh Rian terhempas ke lantai, menyesali dirinya yang begitu bodoh, selama ini ia begitu sering dikecewakan oleh wanita, dan terus mencari, tanpa pernah menyadari dia yang dicari telah berada didekatnya. Begitu pandai Tari menyembunyikan segalanya darinya, betapa kuatnya ia memendam rasa itu selama ini. Ingin sekali rasanya ia bertemu Tari dan mengucapkan beribu maaf atas dirinya yang tidak pernah peka atas perhatian yang diberikan Tari padanya. Rianpun menyadari betapa kehilangannya dia akan sosok sahabat  terbaiknya tersebut. Ingin sekali ia bertemu Tari lalu memeluknya dan mengatakan diapun begitu menyayanginya. Rian mengambil HP nya dan mengetik sms untuk Tari.
“Maafkan aku yang terlambat menyadari segalanya, aku terlalu memikirkan indahnya persahabatan sampai mengabaikan dirimu seorang wanita yang begitu rapuh akan perasaan, aku juga menyayangimu Tari, kejarlah cita-citamu, jika kau memintaku untuk mengingatmu selamanya, maka aku akan berjanji tuk menunggumu kembali”.