Senin, 15 Juli 2013

17. Pelangi Setelah Hujan (Ending)

17. Pelangi Setelah Hujan

            Sejak saat itu komunikasi Ilmi dan Alan benar-benar terputus. Beberapa bulan berlalu namun Alan tak pernah menghubunginya lagi. Ilmi mengerti pasti Alan sangat kecewa dan mungkin tidak lagi mau berkomunikasi dengannya.
            Sementara itu, Ilmi melewati hari-harinya dengan haru pilu bersama keluarganya. Ilmi benar-benar berupaya menjadi anak dan kakak yang baik untuk Ibu dan adik-adiknya. Ilmi sangat bangga dengan kedua adiknya yang berbudi pekerti baik serta menjadi siswa-siswi yang berprestasi disekolahnya.
            Aira sedang giat-giatnya belajar demi mengupayakan beasiswa kuliah gratis dari pemerintah yang akan diberikan kepada siswa yang berprestasi. Sedangkan Hafis selalu saja memenangkan perlombaan cerdas-cermat baik itu disekolah, maupun menjadi utusan mewakili sekolahnya ke tingkat kabupaten.
            Hari itu Ilmi mengajak kedua adiknya berziarah ke makam Bapak mereka. Rutinitas itu selalu mereka lakukan setiap akhir bulan guna menghilangkan rasa rindu mereka kepada sang Bapak. Hari itu Ibunya tidak ikut karena mereka pergi di sore hari sedangkan Ibunya masih harus menyelesaikan pekerjaan. Sesampainya di depan pusara sang Bapak, Ilmi tak pernah bisa menahan meneteskan air mata. Kenangan akan sosok Bapak yang begitu arif dalam memimpin keluarga selalu menghampirinya. Bersama kedua sanga adik Ilmi membacakan do’a untuk sang Bapak guna ketenangannya di alam sana.
            Setelah mereasa puas melepas rindu, mereka bergegas pulang kerumah. Jarak pemakaman dari rumah mereka tidaklah jauh sehingga mereka tidak menaiki kendaraan dan hanya berjalan kaki setiap kali pergi berziarah. Sesampainya di depan rumah, Aira melihat ada sepatu pria yang terletak didepan pintu rumahnya.
            “Sepertinya ada tamu, tapi siapa ya kak yang datang sore-sore begini?”.
            Mendengar perkataan Aira, Ilmi langsung memperhatikan sepatu hitam yang terlihat mengkilap karena dirawat baik oleh pemiliknya terletak didepan pintu rumah mereka. Ia sedikitpun tidak bisa menduga siapa tamu yang sedang berada didalam rumahnya. Sedangkan Hafis malah tertarik dengan sepatu tersebut dan mencoba mengenakannya. Namun sayang karena kakinya masih terlampau kecil sehingga sepatu itu terlihat begitu besar dikenakannya.
            “Fis…jangan dek..cepat lepas dan letakkan lagi, nanti sepatunya rusak”. Aira dan Ilmi merasa geli dengan tingkah adik mereka, setelah meletakkan kembali sepatu tersebut, Hafis pun langsung masuk kedalam rumah disusul oleh kedua kakaknya. Saat masuk dan melihat ternyata tamu yang datang tak lain adalah Alan. Jantung Ilmi spontan berdetak kencang tidak karuan. Ia seakan sedang bermimpi melihat tamu pria yang sedang berbicara dengan Ibunya saat itu adalah Alan.
            “Mereka sudah pulang. Nak Alan bilang dia temanmu Mi, kasian dia agak kesusahan katanya mencari rumah kita”. Jelas sang Ibu.
            Ilmi masih terdiam dan menatap Alan yang kini benar-benar hadir dihadapannya. Ia tidak menyangka setelah beberapa bulan tidak mendengar kabarnya, hari itu ia bisa melihatnya kembali secara langsung.
            “Iya bu..sebentar Ilmi buatkan minum dulu”.
            “Tidak usah kak, Ra saja”.
            Ilmi semakin salah tingkah karena dia bermaksud mengambil kesempatan membuatkan minum untuk Alan suapaya dapat menenangkan hatinya yang sedang tak menentu. Alan pun terlihat memperhatikan Ilmi dengan seksama. Iya yakin kedatangannya yang begitu mendadak pasti membuat Ilmi sangat terkejut ditambah lagi komunikasi mereka terputus total dalam beberapa bulan terakhir.
            Ilmi merasa canggung kini berhadapan dengan Alan, semua perasaan menggelayutinya. Mereka dibiarkan berbicara berdua karena Ibu dan adik-adiknya tau tamu itu adalah teman Ilmi yang memang ingin bertemu dengannya.
            “Mas tau darimana alamat rumah Ilmi?”
            Ilmi heran kenapa Alan bisa sampai kerumahnya. Alan pun menceritakan bahwa dia sebenarnya sudah beberapa hari melakukan pekerjaanya di kampus cabang dari universitas tempatnya bekerja di Medan. Kampus tersebut terletak diluar kota dari tempat tinggal Ilmi yang jarak tempuhnya sekitar tiga puluh menit. Pihak kampus memintanya melakukan peninjauan selama sepuluh hari di kampus yang baru dibuka itu. Kebetulan hari itu dia tidak ada jadwal, ia memanfaatkan waktu tersebut untuk berkunjung ke rumah Ilmi yang diketahuinya alamat rumah tersebut dari Putri.
            “Jadi ceritanya Universitas tempat aku bekerja sedang membuka beberapa cabang di kabupaten”. Jelas Alan.
            “Owh…tapi kenapa Mas tidak bilang Ilmi dulu kalau mau datang?”
            “Aku sengaja, mau balas dendam karena kamu dulu pulang gak bilang-bilang sama aku”
            Ilmi tertawa mendengarnya. Ilmi tidak menyangka Alan masih memendam jengkel atas sikapnya bahkan berkesempatan untuk membalas.
            “Aku pamit pulang dulu ya Mi, takut nanti kemalaman”
“Owh yasudah hati-hati ya Mas, Ilmi senang Mas mau bertamu ke gubuk kami ini”.
“Mi…meskipun gubuk, namun menyimpan bidadari didalamnya” sahut Alan sambil melempar senyum pada Ilmi. Alan kemudian pamit kepada Ibu dan adik-adik Ilmi. Tampak ia begitu sulit memalingkan wajahnya dari Ilmi untuk kemudian pergi dari rumah itu. Sementara Ilmi begitu senang hatinya karena Alan ternyata tidak marah padanya bahkan masih mau menyempatkan diri mengunjunginya.
Malam harinya Ilmi menerima sms dari Alan. Alan menanyakan kegiatan yang sedang dilakukannya. Ilmi dengan senang hati membalas sms tersebut. Beberapa saat kemudian Alan mengirimkan sms minta izin untuk diperbolehkan bertamu lagi kerumahnya sebelum kembali ke Medan. Ilmi tentu saja memperbolehkan Alan datang kerumahnya kapanpun dia mau. Karena pertemuan yang begitu singkat kemarin tak mampu  menghapus rindu Ilmi padanya.
Keesokan harinya seperti yang dijanjikan, Alan benar-benar datang kembali bertamu kerumahnya. Lama mereka berbincang-bincang mengenai kegiatan masing-masing. Binar kerinduan tampak jelas melekat disetiap sorot mata kedua sejoli itu. Tidak ada yang berubah jika mereka bertemu. Selalu saja Alan mampu membuat Ilmi merasa gembira dengan segala leluconnya.
“Besok Aku balik ke Medan Mi” tiba-tiba saja Alan mengatakan hal yang sedikit membuat semangat bicara Ilmi menurun.
“Sudah selesai ya Mas urusan ke kampus itu?”
“Iya sudah..Tapi seminggu kemudian aku dipindah tugas menjadi dosen tetap disitu”
“Maksud Mas?” tanya Ilmi heran.
“Sebelumnya aku minta maaf selama ini tidak pernah menghubungimu. Aku disibukkan dengan penyelesaian S2 ku beberapa bulan ini. Aku habiskan waktu untuk fokus pada risetku. Alhamdulillah studiku sudah selesai. Berhubung pihak Universitas membuka cabang ke daerah-daerah lain termasuk tempat yang sekarang akan menjadi tempat kerjaku. Aku tertarik untuk mencoba pindah mengajar ke tempat itu”. Jelas Alan mengenai kepindahannya.
“Tapi kenapa mesti pindah Mas? Bukannya di sana Mas sudah mendapat posisi yang baik, Mas juga sudah memiliki tempat tinggal disana?”. Tanya Ilmi sambil melemparkan tatapan penuh keheranan, karena yang dilakukan Alan termasuk hal yang membuang-buang waktu dan tenaga saja fikir Ilmi.
“Aku tahu tempat itu tidak jauh dari tempat tinggalmu Mi, itu membuat aku melakukan semuanya, sulit rasanya bagiku menerima penolakanmu hanya karena masalah jarak. Apa salahnya aku berusaha menggapai kebahagiaanku kalau memang aku mampu”.
Penjelasan Alan tak hanya membuat Ilmi terharu, ia juga takjub dengan usaha Alan demi untuk mendapatkan dirinya.
“Mas serius dengan semua  ini?”
“Setiap hari aku berdoa meminta petunjuk untuk mengikhlaskanmu atau terus berusaha mendapatkanmu. Alhamdulillah sholat Istikharah menjawab segalanya. Allah memberikan petunjuk bagiku lewat pkerjaan ini”.
“Subhanallah..Ilmi tidak tahu harus bilang apa Mas, Ilmi tidak menyangka Mas lakukan semua ini hanya karena Ilmi”.
“Jadi apa masih ada alasan bagimu menolakku Mi?
Ilmi terhenyak mendengar kata-kata terakhir yang Alan ucapkan, ia tidak menyangka hari itu ia kembali di lamar oleh Alan.
“Jika Ibu merestui, Ilmi bersedia Mas”.
Dengan setulus hati Alan pun menyampaikan niat baiknya memperistri Ilmi kepada Ibunya. Bak gayung bersambut, Ibu dan adik-adik Ilmi merestui mereka. Alan yang baru beberapa hari memperkenalkan diri ternyata cukup bersahaja dimata keluarga Ilmi.
Setelah menyelesaikan urusan kepindahan tugasnya. Alan pun memboyong kedua orang tuanya untuk meminang Ilmi secara resmi. Beberapa bulan kemudian akhirnya mereka resmi menjadi suami istri. Prosesi akad nikah di sebuah mesjid yang diwalikan oleh pamannya dan dan di saksikan oleh seluruh sanak saudara benar-benar berlangsung khidmat. Keesokan harinya resepsi pernikahan yang sederhana namun cukup sakral itu pun berlangsung di kediaman Ilmi. Putri sahabatnya juga turut hadir dalam pesta itu dan menyaksikan Ilmi yang akhirnya mulai menemukan mentari yang selama ini enggan menyinari mendungnya kehidupan sahabatnya itu.
Takkan terwakilkan oleh apapun rasanya kebahagiaan yang Ilmi rasakan hari ini Mas. Terimakasih telah mempercayai Ilmi untuk mendampingimu Mas” ucap Ilmi pada Alan saat mereka memasuki kamar pengantin mereka.
            Jangan berterima kasih begitu sayang, kita bersatu karena memang Allah telah memberi restu. Mulai sekarang apapun yang terjadi kita hadapi bersama. sambut Alan sambil menggenggam erat kedua tangan Ilmi. Kedua matanya tak lepas memandang wajah Ilmi sambil tersenyum. Ilmi menunduk malu, hatinya bergetar saat telapak tangan Alan menyentuh dagunya kemudian mengecup keningnya. Kini di hadapannya hadir secara nyata orang yang selalu memenuhi mimpi-mimpinya siang dan malam.
Kehidupan Ilmi pun perlahan berubah menjadi lebih baik. Berkah yang diterimanya datang silih berganti. Menyadari kemapuan yang di miliki Ilmi, Alan pun membuka tempat bimbingan belajar dimana Ilmi dan Aira menjadi tenaga pengajar. Rizky yang diberikan Allah pada mereka tak henti-hentinya mengalir. Tempat bimbingan belajar itu menjadi salah satu bimbel terbaik di kota itu. Alan juga mensupport Ilmi untuk kuliah sesuai jurusan yang di inginkannya. Ilmi sangat senang hatinya akan segala pengertian dan pengorbanan Alan untuk membahagiakannya. Ilmi tidak menyangka akhirnya bisa duduk di bangku kuliah meskipun dalam usia yang tidak muda lagi, namun baginya menuntut Ilmi tidaklah memandang usia. Ilmi menjalani aktivitasnya sebagai Istri sekaligus calon Ibu dari bayi laki-laki yang dikandungnya serta terus mengikuti kegiatan kuliah. Semua bisa terlaksana dengan baik karena kepiawaian Alan dalam membimbingnya. Sosok Alan benar-benar segalanya bagi Ilmi.
Ilmi selalu bersyukur atas segala nikmat yang kini diterima oleh-nya. Ia akhirnya bisa menikmati indahnya pelangi setelah diterpa derasnya hujan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar